Rabu, Maret 21, 2012

Blue Soul

"Makin tidak butuh kekaguman, makin mengagumkan" @PrieGS

Bertemu kawan lama itu salah satu modus menggali energi hidup. Apa yang membuat energinya berlimpah adalah karena emotions attached to the memory of old friends. Bertemu [ lagi ] dengan kawan lama juga bukan tentang pembuktian eksistensi diri. Bagi jiwa yang lembut, ego sudah lama mendarat. Bagi batin yang tenang dan sunyi, itu karena "monyet-monyet" dan "kelinci-kelinci" liar sudah dikandangkan hingga tidak lagi berkeliaran tanpa kendali di benak dan mengganggu. Jika sudah begini, bertemu kawan lama itu joy. Eagle fly. Chicken stay. Persis. Karena memang ayam tidak bisa terbang, seperti halnya burung tidak bisa terus dipaksakan tinggal di tanah, maka ia musti terbang. Tak perlu dibandingkan. 
Ketika mengetahui bahwa hidup sebagian kawan lama ain't so much fun, maka itu saatnya bagi immortal soul-mu untuk merefleksi pencapaianmu. Keep cultivating gratitude. Ketika bertemu kawan yang lama yang menerbitkan murkamu, maka you don't need to forgive each other, you are born forgiving each other. Ketika kawan lama berada dalam level yang sama saat ini maka ingatlah bahwa the joy of a mortal body should be parallelized with the joy of an immortal souls. This will make your soul 'a national treasury' of Heaven, for sure. 
Saya sendiri suka bertemu dengan 'Kawan Lama'. Some says i have a relationship with my imaginary friend. Well, i don't mind. Begini biasanya saya suka bertemu beliau di setiap waktu dan tempatnya secara random, mengambil istilah dari Liz : The place where these two souls were meeting everytime is a place that had nothing to do with the body. The two people who needed to talk to each other "up there on a very quiet place" were not people anymore. At the level of this reunion, we were just two cool blue souls who already undertood everything, unbound with bodies, in infinite wisdom. Itu saja. Cerna saja sendiri. Bagi yang telah pernah disana, nampaknya tak lagi ingin kembali. Believe me.

Tabik.

Kamis, Maret 15, 2012

Manajemen Energi

"I'm not lazy. I'm on energy saving mode". 


Kata Bon Jovi, "I'll sleep when i'm dead". Saya akan berhenti bila sudah mati.
Inilah kekuatan energi hidup itu. Energi hidup yang selaras-iring dengan energi alam semesta membuat kehidupan ini terus berputar. Energi itulah bagai langit semesta, ialah ruang maha luas kebiruan, tidak terpengaruh timbul lenyapnya aneka jenis awan, ia tetap maha luas. Hanya awan hitam dan awan putih yang sesekali bergantian bergantungan di langit birunya.
Energi hidup itulah bumi, yang jutaan tahun lalu semenjak terbentuknya tetap menyemburkan air jernihnya, menghasilkan tanah suburnya, yang karenanya bermanfaat menghidupi semua makhluk yang tinggal di permukaannya.
Energi hidup juga yang membangunkan badan. Mimpi pun energi yang menghidupkan. Energi hidup pula yang terejawantahkan dalam berbagai rupanya menuntun umat manusia dalam sejarahnya berevolusi dan terjaga eksistensinya hingga hari ini.
Namun, seperti segala hal diciptakan secara alamiah berpasangan, demikian pula energi : ia berpasangan antara energi positif dan energi negatif. Kehidupan modern kadang membuat kedua energi collided tak terelakkan. Saat ini semua aspek kehidupan memiliki dan terkontaminasi kedua jenis energi ini. Menjadi masalah ketika kekuatan energi negatif lebih mendominasi segala aspek kehidupan. Energi negatif memperbudak manusia dan menurunkan kodratnya menjadi "robot bernyawa".
Dewasa ini, mudah dimaklumi bila hampir semua energi yang ada ditujukan untuk mengejar keuntungan.  Energi untuk meraih segala kekinian atas nama ke-aku-an terkadang membuat semua energi terjungkir balik. Energi positif dapat saja justeru menghasilkan energi negatif. Pun sebaliknya. Meminjam istilah pak Gede Prama, "Jika kita terus menghabiskan semua waktu untuk berlari, tidak hanya lelah dan capek hasilnya, tetapi juga kehilangan sense of direction. Inilah akar dari kehidupan banyak orang yang tandus dan kering".
Disinilah isunya. Kompetisi dalam modernitas membawa banyak kehidupan orang menjadi tanpa makna. Bagaikan ikan yang menerima seluruh hidupnya di dalam air, demikian pula ikan tidak perlu galau melihat burung hidup terbang di angkasa. Karena burung sudah semestinya hidup tidak di air.  Demikian pula ikan tidak akan bertahan di hidup tanpa air. Semuanya sudah pada tempatnya. Menata hati untuk bisa menjadi seluas-luasnya ruang tidak mudah. Diperlukan disiplin untuk menjinakkan "monyet-monyet" dan "kelinci-kelinci" yang bergelantungan liar dan berlarian tak terkendali di benak dan pikiran. Ketika mereka sudah jinak, maka terhemat pula energi hidup.
Selanjutnya, kesadaran di setiap kali terhubung dengan energi semesta  menuntun kita setidaknya ke tataran kontemplatif. Levelnya mengatasi mendengar tapi tidak menyimak. Terkoneksi dengan energi alam semesta yang murni sungguh menyenangkan.Membadankan (baca : menyatukan) dua hal menjadi satu itulah tujuan utamanya. Ketika sebaran energi murni semesta di luar sana tertangkap dan  terolah menjadi satu, maka itulah saatnya energi menghidupkan.
Pesan sederhana adalah, seberapa kerapnya terhubung dengan energi murni semesta jikalau peliharaan "monyet" dan "kelinci" tidak dikendalikan dengan seni disiplin, maka energi pada akhirnya akan terbuang percuma, karena artinya kita masih sering kagum (jawa : gumunan) dan terpesona dengan silih bergantinya awan hitam dan awan putih yang ujungnya membuat lelah karena kita akan terus "berlari" dibudak ke-aku-an diri (tidak sumeleh).
Energi akan dapat dimanajemeni dengan efektif dan efisien jika hati dapat seluas semesta ini. Tataka (danau) menyerap apa yang masuk ke kedalamannya dengan lembut dan tidak bergolak. Apapun mungkin masuk ke kedalamannya pada akhirnya hanya untuk hilang di telan luas ruangnya. Tidak perlu digenggam erat, tak perlu pula ditolak.

"Energiku untuk membenci tidak kuberikan ruang seluas energiku untuk mencintai" @PrieGS 


Tabik.

Jumat, Maret 02, 2012

I Love You. You. and You. You Too. You there, there and there.

Semakin engkau ingin tampil sempurna, semakin engkau menderita @PrieGS

Yes, a lot
Di bisnis, packaging itu sangat penting. Wadah. Kemasan yang eye-catching bakal gampang merebut perhatian konsumen. Ujung-ujungnya berharap juga bisa menggaet seleranya pula. Semuanya tentang visualisasi. Bahkan sekarang politik dan para pelakunya pun musti paham dan bergaul akrab dengan jurus marketing dan aneka bentuk kemasan jual-diri jika ingin "dilihat" kontestan. Kualitas adalah hal lain lagi. Sifatnya belum tentu inheren dengan  manisnya kemasan. Kualitas bisa saja cuma nomor sebelas.
Di dunia yang dipenuhi unsur materialisme, semua berlomba untuk tampak "lebih" ketimbang lainnya. Karena packaging, sekali lagi, penting. Atas nama pencitraan diri dan berbagai status yang mengikutinya setiap orang sepakat dalam bawah sadarnya untuk menyembah berhala yang sama : penampilan sempurna. Mindset setiap kita pada akhirnya terinternalisasi semenjak dini untuk ikut bermain di wilayah perangkap itu.
Tidak ada yang salah dengan penampilan yang terbaik. Obsesi tanpa dasar terhadapnyalah yang berbahaya. Mengejar tubuh sexy. Mengejar karier puncak. Mengejar prestasi puncak. Mengejar kesucian. Mengejar kepintaran. Mengejar kemewahan. Mengejar kecanggihan. Mengejar kekinian. Mengejar angin. Menjaring kesia-siaan.
Demi kemasan, apapun dilakukan dan/atau tidak dilakukan. Seorang kawan pernah bercerita karena suaminya yang sekarang sudah  jadi pejabat maka ia tidaklah diperkenankan, atau lebih tepatnya, benaknya mulai memilah-milah kegiatan  yang ingin dilakukannya. Ia mulai menjadi tidak "membumi".  Sikap batinnya mulai berubah demi menjaga imej. Semuanya hanya untuk pencitraan. Menyedihkan sekaligus menyiksa diri sendiri. Menjadikan diri sendiri bukan anda alias Nggak gue banget sama dengan usaha menipu diri sendiri. Memelihara citra diri pun merupakan pengorbanan konyol jika hanya untuk menjaga kepentingan imej tanpa tahu apa substansinya.
Jika bersepeda itu membebaskan rasa kanak-kanak di dalam diri, bersepedalah. Bukan tentang sepeda dan segala atributnya, ini tentang anda. Jika mendengar musik favoritmu jadi pingin berjoged merdeka bagai orang in-trance mengistirahatkan jiwamu, go ahead dance.  Jika dikenal sebagai pribadi dengan kecerdasan luarbiasa justru membuat jiwamu tegang, maka tambahkanlah goblogmu, jika itu membuatmu rileks. Jika berenang arungi laut membuat dahaga jiwamu yang kering menjadi basah maka loncatlah segera dari perahumu bahkan hanya dengan celana dalammu. Jika tidak melakukan apa-apa adalah bagaikan melakukan segalanya bagimu, maka santailah. Jika melakukan perjalanan dengan lambat membuatmu lebih bisa mengagumi sekitarmu karena ia menampakkan keindahan yang selama ini luput karena kesibukanmu, maka menepilah. Kagumilah cahaya kunang-kunang yang timbul dari tubuh mungilnya. Ceraplah kebesaranNya. Jika berkumpul makan dengan orang-orang di Warteg dekat rumah lebih mendekatkan kesadaranmu akan syukurmu, maka naikkan kakimu ke kursi dan mulailah makan dengan lahap seperti yang lainnya. It's not about all the stupid things. It's all about YOU that matter. Be You. Be Free. Tidak jatuh kepada stereotype munafikisasi, namun juga tidak terjebak pada keberlebihan.
Butuh usaha keras untuk "membumi". Butuh usaha lebih keras lagi untuk menjadi rendah hati. Segala hal seolah menantang eksistensi kita untuk selalu terbang tinggi dengan sayap-sayap ego. Yes. No. I'm not being immature. I'm having fun. You should try it.

Pakaian terbaik adalah perilaku #PGS

Tabik

Senin, Februari 27, 2012

Bits of Thought

Ibadah modern : "Sialan, sudah nyumbang tak ada wartawan" @PrieGS
Ibadah modern pula yang dipragmatiskan orang masa kini dengan  hanya mau mendapatkan apa yang diinginkan, alih-alih memberi atau melayani apa yang dibutuhkan. Lihatlah, bahkan di rumah ibadah perilaku kebanyakan orang hanya mau mengambil, bisa dibayangkan perilaku mereka ketika berada di tempat-tempat yang bergelimang uang dan status.

Pikiran yang menendang. Pikiran yang mencengkeram
"Itu ciri khas manusia yang belum membadankan kesadaran, kesehariannya teramat sibuk dengan menendang atau mencengkeram. Duka cita, kekalahan, sakit, dicaci dan hal yang menjengkelkan lainnya sekuat tenaga ditendang sejauh-jauhnya. Suka cita, kemenangan, dipuji, ditinggikan dan hal menyenangkan lainnya dicengkeram sekeras-kerasnya.
Padahal kehidupan serupa gelombang lautan. Gelombang tinggi (baca : kesuksesan dan kemenangan) tidak bisa ditahan keserakahan agar selalu tinggi selama-lamanya. Gelombang rendah (kegagalan, kesialan) tidak bisa dipaksa kesedihan agar cepat-cepat menghilang di bibir pantai. Semuanya berputar alami apa adanya".(Gede Prama, Setenang Pepohonan, Selembut Rerumputan, Hal. 71, 2011).


Selasa, Februari 14, 2012

Lost Best Scene Finally Found

Up In The Air. Ini judul film lama, beredar sekitar tahun 2010 jika saya tidak salah. Saya sudah menontonnya via DVD ketika pertama kali beredar. Beberapa kali juga melalui saluran kabel karena ditayangkan berulang-ulang. Sudah pasti kita juga semua tahu jalan ceritanya. Juga siapa para pemain bintangnya. Hanya saja, suatu ketika melalui saluran kabel saya secara tidak sengaja re-watched film ini hingga selesai. Barulah ketika saya kebetulan menontonnya kembali untuk kesekian kali secara utuh itu saya menemukan sesuatu yang menarik di film ini, yang tentu saja artinya saya melewatkan satu scene menarik dari film ini berulang-ulang kali pula.
Scene yang menarik hati saya itu adalah ketika tokoh Ryan yang dikesankan dingin dan tanpa emosi karena tuntutan pekerjaannya, akhirnya luluh oleh sebuah rasa terhadap Alex. Ada chemistry yang terbangun antara Ryan dan Alex. Tentu saja ini berkat kemampuan akting tiga pemain utama dan chemistry yang terbangun secara profesional di antara mereka bertiga. Vera Farmiga tampil mantap sebagai wanita pebisnis yang nyaris tanpa emosi, persis seperti peran yang dibawakan oleh George Clooney. Kepada VOA, aktris Vera Farmiga yang berperan sebagai Alex mendeskripsikan rasa ketertarikan yang sangat kuat yang tumbuh dalam hubungan antara Ryan dan Alex. “Mereka cocok dalam berbagai tingkatan. Ada daya tarik fisik. Ada daya tarik psikologis,” ujar Vera.
Film ini mengajak penonton memikirkan kembali konsep hubungan romantis antara pria dan wanita, apa yang dianggap lazim dan tidak lazim. Hubungan Ryan dan Alex yang kasual tapi sangat mendalam boleh jadi membuat konsep hubungan romantis yang biasa tak lagi berlaku.
Bahkan ketika rasa itu sangat menguasai hati Ryan sehingga ia meninggalkan forum seminar yang saat itu dirinya justeru tengah berbicara sebagai keynote speaker hanya untuk segera terbang ke Oklahoma bertemu Alex dan hanya untuk mendapati ternyata Alex adalah tipikal istri karier yang telah mapan dengan suami dan anak-anaknya. When he shows up, he finds her with a family and a husband. Mimik muka Ryan menggambarkan 1001 rasa hatinya lebih dari kata-kata. Salah satu suguhan profesional George Clooney!. Adegan selanjutnya, adalah Alex di dalam kabin mobilnya, seorang diri, menelepon Ryan entah dari mana, yang jelas artinya ia menjauhkan diri dari keluarganya sejenak hanya untuk menelepon Ryan. It is what it is!. Brilliant scene.
She calls and asks what he was doing. That was her real life, she said. He is just a PARENTHESES and an ESCAPE from real life.
She doesn’t apologize for this being the case and in fact, tells him to call her if he wants to see her again.
Ryan Bingham: I thought I was a part of your life.
Alex Goran: I thought we signed up for the same thing... I thought our relationship was perfectly clear. You are an escape. You're a break from our normal lives. You're a parenthesis.
Ryan Bingham: I'm a parenthesis?
Alex Goran : What do you want?
Ryan : Ia tidak (bisa) menjawab.
Alex Goran : Ryan, bahkan kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan.
Ryan tetap diam sampai akhirnya hubungan telepon terputus.

Simak lagi kalimat tajam Alex ini : I thought our relationship was perfectly clear. You are an escape. You're a break from our normal lives. You're a parenthesis.
"YOU'RE AN ESCAPE. A BREAK FROM OUR NORMAL LIVES. A PARENTHESIS. Terjemahan yang tepat mungkin adalah bahwa Ryan itu "sisipan", sebuah "jeda" saja, sebuah "ruang hampa" atau "ruang steril "yang bisa saja cuma dihuni berdua, tapi sifatnya temporer.
It is cut you deep inside, isnt it?. Even deeper.

Here’s the issue: Life is more fragmented and segmented than ever before. We live in an era that allows (celebrates? Endorses?) multiple lives and segmentation. Integrity is not a virtue any longer. Be anything or anyone you’d wish to be.Just be it.
Taste a little of this. Taste a little of that. Be a little of this. Be a little of that. It’s all good – as long as you follow your “heart.”
Keren. Seperti tipikal film asing lainnya yang menggali hingga dalam sampai ke area psikologis.
Mari cerdas dengan pilihan tontonan yang ada. Tetap katakan tidak pada sinetron dan film lokal tak bermutu, hingga kapanpun.
Tabik.


Senin, Februari 13, 2012

Iba

Setiap orang menderita, maka tataplah siapa saja dengan iba @PrieGS


jiwa-jiwa yang terkurung dalam cangkang
Melatih jiwa dalam beberapa hal dapat sama dengan how to train your dragon. Namun jika  jiwa sudah terbebas dari hiruk pikuk, ia akan melembut. Jiwa-jiwa yang telah melembut dalam heningnya selalu saja menakjubkan hati. Jiwa itu sudah mengatasi egonya. Ego yang sebelumnya terbang tinggi sekarang telah mendarat. Ia sepenuhnya sudah mengontrol tubuh dan sifat. Apa yang dapat dilakukan jiwa yang lembut dan berhening dari sunyinya?. 
Adalah sekumpulan mahluk berjumlah milyaran berjenis manusia di planet bumi ini. Satu-satunya planet di alam semesta yang memproduksi coklat, saya rasa (and thanks for that!). Lihatlah, setiap hari dalam perangkap besar bernama kehidupan mereka berlaku bagaikan robot bernyawa. Sejak pagi hingga malam  terprogram memenuhi takdir (atau kutukan sejak kisah Adam dan Hawa?). Robot-robot bernyawa yang berguna maupun tidak berguna. Ada guidelines bagi jiwa-jiwa dalam robot itu : moral, dan/atau yang mereka sebut agama. 
faces
Apapun itu, seharusnya sangat berguna untuk mereka. Aneka muka dan mimik mereka berganti-ganti menjalani hari-harinya yang sudah dikuota. Days are numbered. Lihatlah muka-muka keras itu. Seiring usia menjadi tua ditempa oleh takdir menghasilkan gurat dan garis sebagai bukti hidup yang dijalaninya. Kadang-kadang Scars are proof that they're a survivor. Yang terkuatlah yang menang. What a life!. "We're all damaged in our own way. Nobody's perfect. I think we are all somewhat screwy, every single one of us", kata Johny Depp.  Atas nama segala sesuatu yang diinginkan tubuh-tubuh robotik mereka, setiap harinya adalah berjerih payah tanpa henti demi pencapaian hidup. Mulai pengemis jalanan hingga pejabat negara, pengusaha. Semua menerbitkan ibaku. Apakah lagi yang dicari, hai tubuh-tubuh fana?.
Jiwa yang lembut menyapa jauh ke lubuk sanubari sesamanya. Ia meneduhkan. Melalui pintu mata di antara muka-muka keras itu ia masuk, menyelip ke relung-relung terdalam hingga kemudian menyentuh hati. Ia ingin menyentuh sifat robotik masing-masing, mentransformasikannya ke sifat manusia seutuhnya. Yang berjiwa. Berhati. Jiwa yang lembut merasa iba dengan beban hidup tubuh-tubuh itu. Ia ingin memerdekakan jiwa yang terkungkung dalam tubuh-tubuh letih dan berbeban berat itu. Merdekalah. 
Seberapa banyaknya jiwa termerdekakan?. Tak banyak dibandingkan milyaran lainnya. Jika saja guideline itu dipedomani sungguh oleh tubuh-tubuh letih dan lelah itu. Oleh karenanya, jiwa iba jika melihat banyak berkeliaran jiwa yang masih terkungkung dalam cangkang tubuh duniawi. Tubuh-tubuh itu menghiba dan jiwa iba.

Kalau aku masuk surga nanti, pastilah karena Tuhan iba melihat mukaku yang tidak ganteng ini :)

Tabik. 

(pict source : berbagi.wordpress)

Jumat, Februari 03, 2012

Apalagi yang kau sombongkan, kekayaanmu takkan melebihi Nabi Sulaiman, kepandaianmu takkan bisa melebihi Nabi Khidr

"Apalagi yang kau sombongkan, kekayaanmu takkan melebihi Nabi Sulaiman, kepandaianmu takkan bisa melebihi Nabi Khidr" 

Hidup tidak boleh terperangkap cuma pada tubuh. Tubuh itu "cangkang", wadah. Suatu saat jutaan sel tubuh akan menua sebelum akhirnya ia berhenti meregenerasi dirinya sama sekali. Anda sudah tahu istilah tepatnya saat itu terjadi. 
Hidup ini sendiri adalah "tubuh".  Tidaklah mungkin siapapun untuk dapat menjadi bebas dan lepas merdeka tanpa meninggalkan "tubuh" bernama kehidupan ini, sebab jiwa adalah abadi dan hakikatnya merdeka. Tubuh tidak akan cukup tahan lama dijadikan tempat tinggal jiwa. Untuk sementara saja jiwa tinggal dan menghidupi tubuhmu. 
Sementara jiwa bersemayam di tubuh, ia punya merk : Nama. Nomor, mungkin. Jiwa ini, seperti halnya tubuh, perlu juga nutrisi agar menjadi sehat. Kita sudah tahu semua apa nutrisi jiwa itu. 
Jiwa membuat tombol "sifat" di tubuh menjadi on dan selanjutnya sifat akan nampak dari setiap tindakan tubuh. Jiwa yang ternutrisi dengan baik tercermin dalam sifat dan laku tubuh sehari-hari. 
light of soul
Lantas, adakah missing links ketika menemukan kenyataan banyak jiwa yang tidak ternutrisi dengan baik itu?. Tidak bosan menganalisa praktik sekumpulan jiwa-jiwa dimanapun dan kapanpun dan kemudian men-sharing temuan-temuan, gejala-gejala yang ada,  ditemukan banyak sekali faktor pengalih perilaku yang pada hakikatnya baik menjadi menyimpang. Pekerjaan, semisal. Atas nama pekerjaan, terjadi de-humanisasi. Mengejar ambisi menjadi "pekerja sukses" membuat relasi terhadap sesama garing, mati. Tidak ada lagi tulus itu.  Ular pun menggosok ego sifat dalam tubuh secara perlahan dan mematikan sehingga tercipta tubuh-tubuh yang menghamba kepada eksistensi status sosial, status religiusitas, materi, kuasa, tinggi hati. Hidup bagi tubuh-tubuh yang terjebak ini bagaikan kompetisi di arena balap. Mereka bahkan telah dilatih menjadi senjata mematikan bagi sesama sedari kecil. Simpati dan empati memang harus ada sebagai syarat. Namun persentasenya kecil saja. 
Dalam pekerjaan juga sering ada virus yang kelihatannya tidak berbahaya, namun mematikan secara perlahan.  Seringnya virus ini menghinggapi hampir 90% jiwa tanpa mereka sadari mereka telah terjangkiti akut. virus ini adalah media atau wadah bagi kampanye eksistensi status sosial, materi, kuasa dan berbagai pernyataan negatif yang dihasilkan tubuh akibat penyimpangan fokus tujuan jiwa yang utama. Bisikan ular membuat virus ini mudah menyebar.
Maka, ketika hiruk pikuk ini memekakkan telinga jiwa yang hening dan senyap, terkadang jiwa mendesak hati nurani sebagai karibnya untuk memperingati tubuh. Mengapa repot memperingatkan tubuh, hai jiwa?. Karena ia peduli pada "masa berlaku" tubuh. Ia tidak ingin kelak keluar dari tubuh dan sifat yang dirasukinya dengan hal yang sia-sia tanpa pernah mencapai yang hakiki. Karena jiwalah yang akan menanggung kesia-siaan itu disepanjang keabadiannya nanti. 
Nutrisilah jiwa, tanpa pamer, tanpa hiruk pikuk. Ingatlah, bahkan memamerkan jiwa yang ternutrisi dengan baik pun adalah godaan ular. 

Tabik.
 

Selasa, Januari 24, 2012

V I R U S

"#AlwaysRemember - A person who talks to you about others, will also talk to others about you"

Penting banget posting yang nggak penting begini nih.
Oh Really?

Begitulah hidup. Mungkin saja anda betul-betul total menjalankan perintah agama dalam artian  menjalankan kewajiban-kewajiban, beramal, dan menjauhi laranganNya, you name it lah. Tapi ada satu "virus" yang  sangat lembut, yang bekerjanya mungkin seperti virus worms di komputer anda, menggerogoti sistem pelan-pelan nyaris tak terasa, ujung-ujungnya performa komputer anda lemot. Virus itu terlihat tidak menakutkan sehingga sering tidak dianggap berbahaya, cuma malicious aja. Itu virus bergunjing namanya. Yup, virus ini menyebar dengan masif, sistematis dan terstruktur di sekitar kita. Korbannya biasanya hampir tak terasa terjangkiti virus yang satu ini. Bahkan beberapa masih merasa paling saleh, terberkati. Ini hebatnya efek virus ini.
Virus ini mewabah di sekolah, kampus, tempat kerja, lingkungan anda tinggal, dari tempat kumuh, perkumpulan babu-babu, hingga tempat elite dan institusi agamis. Merasuk dalam ke sanubari pengangguran hingga pejabat negara. Apa saja dan siapapun digunjing. Tidak ada kode etik resmi bergunjing. Gunjinglah dengan gayamu sendiri : sarkasme, ironis, hiperbolis, eufimis, pokoknya, carilah cara bergunjing yang elo banget deh
Fuc*ing Gossipers
Bergunjing itu nyandu. Sulit untuk tidak. Hidup di negara urutan ke 3 -klo nggak salah, atau ke-6 deh- sebagai the most populous country in the world, terlalu banyak penduduk, namun pendapatan per kapita rendah ya begini deh. Semuanya hiruk pikuk, tidak ada hening yang mempesona itu di sini. Pembagian raskin, badut-badut politik, panggung lawakan politik, media pepesan kosong dan  provokatif demi rating, jenis masyarakat shortcut yang hobby hedonis, mentalitas preman di masyarakat (sindrome kelamaan dijajah), oportunis-oportunis jabatan dan karier atas nama mumpung, banyak sekali melahirkan penggunjing-penggunjing, bahkan hingga ke level penggunjing profesional. Pendiam pun digunjingkan. Apalagi selebritis.
Bagaimana supaya tidak bergunjing? Ya jangan bergunjing. Pura-pura ke toilet kek. Nge-blog kek. Naik sepeda saat car free day kek. Kalau kita bisa menggunjingkan 1001 satu hal, maka pasti ada 1002 hal juga yang bisa membuat kita jauh dari berguning.
Tapi satu pertanyaan sisa : jika saya menggunjingkan penggunjing di blog ini apakah saya juga masuk kriteria penggunjing? Dasar penggunjing-penggunjing anjing!.

Tabik!

Minggu, Januari 08, 2012

Simpan Buatmu Saja

"Jauh lebih banyak menyeru nama Allah dengan pengeras suara 
katimbang dengan hati seorang hamba" @Prie_GS

Makin banyak orang cuplik kalimat-kalimat suci dan dikeraskan pula lewat "pengeras suara" media sosial, sebutlah di Blackberry Messenger, dan lainnya. Ndak cuma kalimat suci di degradasikan sifatnya jadi seperti barang remeh temeh lainnya. Lebih dulu adalah  citra diri yang dikeraskan lewat "pengeras citra" media, baik media sosial, cetak : koran, majalah, pamflet, baliho, dan lain-lainnya. Sudah tidak bisa bedakan lagi mana pejabat dan mana pelacur : semuanya beriklan.  
Buat saya, kalimat suci dipetik dari buku suci. Apapun agamanya. Dan saya paling risih jika ditanya apa agama saya. Seperti tidak ada pertanyaan lain. Buat saya ditanya agamanya apa itu seperti ditanya apa warna celana dalam yang sedang kita pakai. Kalaupun hendak mencuplik kalimat suci, buat saya lebih baik menggunakan analogi kata bijak yang sama secara filsafati, yang "cuma" hasil dari olah pikir manusia saja. Makanya saya menghindari "mengobral kalimat suci" dan menurunkan derajatnya serta cuma menjadikannya "barang remeh-temeh" semata yang bisa di up date jadi status setiap saat disesuaikan dengan mood kita. Gila aja kali. Tidak penting dan tidak pada tempatnya ia diturunkan derajatnya dengan cara seperti itu. Mungkinkah pengupdatenya sedang dalam posisi tidak percaya diri?. Labil?. Only God Knows.
Saya suka kalimat suci lebih dari apapun. Tidak perlu orang tahu saya suka. Heninglah. Disana anda akan dengar ia bersuara jauh lebih keras dan jauh lebih jernih ketimbang di obral-obral kesana kemari. Dan, jauh lebih menyentuh sanubarimu paling dalam. Heninglah mendengarNya.
Mungkin beberapa orang memang sedang mencitrakan dirinya seorang yang taat dengan mencuplik kalimat-kalimat suci dan dikeraskan lewat "pengeras suara' dan "pengeras citra"nya, hak asasi juga sih. Cuma saya percaya masuk surga atau tidak merupakan hak prerogatifNya, bukan karena sering-sering mengupdate status "berbau langit" gitu deh
Ini pendapatku. Sampai mana pendapatmu?

"Nasihatmu itu baik, cuma satu kelemahannya, kamu sendiri belum melakukan apa yang kamu katakan"

Tabik.

Kamis, Desember 29, 2011

A Loving Silence

"Mengurus kekuranganku saja aku kekurangan waktu, 
apalagi mengurus kekurangan orang lain". 

Saya suka sekali berhening diri di "kapsul waktu" ini. Melayang tanpa pengaruh gravitasi lagi di lapisan yang kemungkinan namanya adalah eksosfer. Saya tidak tahu. Saya bukan fisikawan. Tidak perlu khawatir dengan nihilnya oksigen. Saya kira saya tidak hanya secara fisik disini.  Diam. Mencerap energi perkasa semesta sebanyak-banyaknya. A loving silence often has far more power to heal and to connect than the most well-intentioned words. Itulah mengapa keheningan selalu menjadi karib akrab saya.
Nun jauh di bawah sana, di Planet Bumi itu, sekumpulan mahluk hidup dalam jumlah milyaran terjebak dalam kesehariannya sibuk menjalani hidup dan bertahan hidup. Bising. Riuh. Terperangkap. Life is the biggest trap you'll ever get caught in, because it's impossible to get out alive.
Suara bising dan hiruk pikuk buat saya terkadang bukan pertanda sukacita. Itu lebih kepada pertanda kerakusan. Mereka terjebak dalam pola yang baku setua umur bumi itu sendiri. Saya dengar ada banyak "agama" dan doktrin "iman" di planet itu yang umurnya juga setua umur bumi. Entahlah, semoga yang mereka sebut sebagai "agama" dan "iman" itu mampu menjadi pedoman atau setidaknya membuat kehidupan mereka bermakna hingga selesainya usia mereka. 
Dalam perangkap besar bernama kehidupan itu banyak sandiwara dipentaskan atas nama bertahan hidup. Why not? It is now the most adaptive that can survive, not the fittest. Panggung sejarah manusia selalu saja diwarnai darah. Saat ini, tetap saja, atas nama kekurangan diri, mereka menjadi penyembah-penyembah berhala modernitas. 
Dalam usia muda anda sudah mengalami kebotakan total?. Obesitas?. Kurus?. Kulit anda pucat? kulit anda hitam?.  Miskin?. Menganggur?. Karier buntu?. Jomblo?. Broken Home? Merasa kurang beruntung?. bodoh?. Gigi anda "mancung"?. Pesek?. Merasa rendah diri karena kalah bersaing? Sebut apa kekuranganmu yang paling kau benci. Dan Voala,  seketika itu pula Iblis menawarkan shortcuts. Ia tidak seketika menjatuhkan buntalan uang di hadapanmu dan mengabulkan keinginanmu dalam kedipan mata. Ia melakukannya dengan gently. Halus. Tersamar. Nyaris tanpa cacat. 
Alih-alih, ia justeru masuk kedalam rasa kekuranganmu yang terdalam. Dibangkitkanlah rasa kekuranganmu dengan perlahan. Hingga akhirnya anda yakin dengan sangat bahwa tidaklah baik memiliki kekurangan. Anda harus lebih daripada yang lain. Kekurangan sebagai individu, kelompok, bangsa, negara sangat memalukan. Tidak dapat diterima. Ia membangkitkan : (1) kesombongan, (2) ketamakan, (3) kedengkian, (4) kemurkaan, (5) percabulan, (6) kerakusan, (7) kelambanan atau kejemuan [acedia] dalam diri. 
Apa yang kita setiap hari akrabi dalam kata : pembunuhan, perampokan, perkosaan, kesewenang-wenangan, korupsi, pengabaian, penghalalan segala cara demi karier, munafik,  Bahkan, Pendakwah di tivi bukan pembebas.Tapi setan selebritas.Yang terkooptasi oleh ketamakan diri dan media, dan lain-lainnya, adalah sebenarnya hanya tujuan akhir dari 7 akar kejahatan paling mematikan yang ditawarkan iblis. Ia cerdik. Ia masuk ke dalam apa yang dimaui hati terdalam manusia. Ia menyuburkan sombongmu. Tamakmu. Dengkimu. Murkamu. Cabulmu. Rakusmu. Iri hatimu. Kadang ia menang lotere. Kadang ia kalah. Namun yakinlah, followernya bertambah setiap hari.
Sepanjang manusia tidak memandang kekurangannya sebagai pelengkapnya supaya sempurna menjadi manusia, maka iblis akan selalu menang lotere. 
Maka, kepala anda botak?. Jason Statham pun botak tapi keren. Tubuh anda gembrot?. Rileks, Big is beautiful. Anda merasa kurus? Rileks, kan ada susu Weight Gain. Perut anda tidak sixpack?. Wah, saya malah tenpack, kok. Think Out of The Box.

Tabik.