Kamis, November 25, 2010

Kancil-kancil Kapitalis Pencuri Energi



Energi. Sebut apa energi yang anda tahu yang dihasilkan secara cuma-cuma oleh alam semesta ini. Tolong juga sampaikan kepada saya bagaimana negara anda mengelola energi tersebut guna sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat dengan berbagai caranya yang baik dan benar, dan sudahkah itu dilakukan oleh negara tempat anda tercatat statusnya secara resmi sebagai warganegara dimana anda bayar pajak dus apakah anda benar sudah menerima manfaat yang diamanahkan alam for free bagi umat manusia melalui negara anda itu?.


Energi. Ia akan habis pada suatu saat, cepat atau lambat. Konon, suatu saat pula, perang besar akan terjadi dengan energi sebagai triggernya. Negara cerdas akan menyimpan energi cuma-cuma dari alamnya dan akan memanfaatkan sebesar-besarnya kelak bagi kemakmuran rakyatnya ketika energi sudah menjadi barang langka dan, misalnya, coal atau batubara, yang berasal dari fossil, bakal jadi barang tontonan saja buat anak cucu kelak dimasa depan di museum saat mereka studytour karena bahkan dimana-mana di perut bumi yang sudah sobek-sobek dan menganga sudah nihil batubara.
Bagaimana anda menggunakan fasilitas messenger di BlackBerry anda jika tidak ada energi yang bisa membuat anda connect wirelessly?
Bagaimana McLaren SLR anda, pesawat anda, kapal laut anda, kereta api anda mengantar anda ke tempat tujuan jika tidak ada energi yang mensuplai kebutuhan mesinnya? Bagaimana saya bisa posting tulisan ini jika tidak ada energi yang membuat netbook saya berfungsi?. What if? Peradaban akan kembali ke zaman purba.
Negara bodoh akan tersanjung bila dipuji bahwa negaranya adalah negara terindah di dunia dengan kekayaan sumber daya alam (baca : yang merupakan cikal bakal energi) yang melimpah ruah dan karenanya jadi terlena dengan pujian itu ia menjual murah (atau dibodohi) kancil-kancil kapitalis dengan mulut beracunnya menyedot sumber energi miliknya. Belum lagi ulah melacurkan negara oleh oknum-oknum pengkhianat bangsa membuat kebijakan penjualan energi alam bangsa jadi jarahan laris bangsat-bangsat tengik kapitalis.
Alam bangsa pun porak poranda dibuatnya. Hutan meranggas dan tanah berlubang sebesar hantaman asteroid dimana-mana karena nafsu ingin menguasai energi yang tak pernah terpuaskan.
Ketika negara kapitalis kaya tenang-tenang saja karena hasil rampokan energi dari negara miskin telah mereka simpan untuk masa mendatang dan mereka sudah mempunyai teknologi untuk memanfaatkan dan menjaring sumber energi terbarukan -- sebagai alternatif dan cadangan jika era energi fossil sudah berakhir --, semisal angin/udara, panas matahari/solar, panas bumi/geo-thermal, apakah negara miskin lagi bodoh sudah siap dengan teknologinya? Sudah, atau tepatnya, bersediakah, negara kapitalis kaya mentransfer teknologi pengelolaan sumber energi terbarukannya ke negara miskin dan bodoh? Disini bodohnya, sumber daya energi kita dijual murah atau dibarter kepada kaum kapitalis rakus, namun teknologi pengelolaan energi terbarukan milik mereka kita harus beli mahal dan bahkan dengan kebijakan politik tambahan yang menekan bangsa sehingga membuat ketergantungan kepada kapitalis. Atau skenario terburuk adalah negara bodoh dan miskin yang tadinya kaya raya energi namun miskin dan bodoh terpaksa harus beli energi kepada negara cerdas dan kaya yang sebetulnya tidak punya SDA dan yang cadangan energinya juga hasil rampokan dari negara-negara miskin dan bodoh. Ibaratnya, negara kaya dan cerdas hanya ingin punya 'dapur bersih' saja, kalaupun mereka hendak pesta-pesta dan masak besar, maka 'dapur kotor' nya adalah negara-negara miskin dan bodoh. Kita sudah merasakan pahitnya modus macam beginian di segmen alutsista pertahanan nasional, bukan? Kita memang maunya selalu tergantung, tidak ingin punya kemandirian, sepertinya.
Masuk lewat manakah kaum serakah itu menguasai sumber daya kita yang melimpah? Salah satu pintunya, dari sekian banyak pintu-pintu lain yang ada, seperti saya kutip dari Antara News, adalah BKPM. Lihat pernyataan keprihatinan Marwan Batubara, (lihat, namanya saja sudah "Batubara", bahkan batubara menjelma menjadi seorang Marwan Batubara untuk memperjuangkan nasibnya, dan memang sudah cocok ia menjadi ahlinya resources), Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies (IRESS), menyatakan, "investor asing masih terus bernafsu untuk menguasai industri strategis di Indonesia yang dinilai mampu meraih keuntungan besar seperti telekomunikasi, energi, perbankan dan bandara". See, ada Energi disitu, kan?.
"Saat ini ada upaya sistematis agar industri strategis yang sangat menguntungkan satu per satu dijual atas nama investasi asing, karena kedua pihak baik investor asing maupun oknum-oknum `penjual` akan sama-sama mendapatkan keuntungan, tanpa mempedulikan kelangsungan masa depan bangsa".
"Ada rencana menjual anak perusahaan Pertamina, yaitu PT Pertamina Hulu Energy dan pengalihan pengelolaan bandara oleh asing, seperti yang dilontarkan Menteri BUMN Mustafa Abubakar". Saya tambahkan disini IPO PT Krakatau Steel kemarin yang dijual murah meriah.
"Di Amerika yang merupakan negara liberal, pengelolaan bandara dan pelabuhan tidak mungkin dilepas kepada asing, di sini justru suara itu muncul". See, lihat ironi ini. Ia juga
"Prihatin dengan penguasaan industri telekomunikasi oleh asing karena telekomunikasi sangat rentan dimanfaatkan negara lain untuk mengacaukan sistem pertahanan nasional. Investor asing bisa saja melakukan intersepsi terhadap sistem telekomunikasi nasional kapanpun mereka mau. Sangat naif kalau kepentingan strategis dikalahkan oleh motif mencari keuntungan," katanya".
"Sebelumnya menurut Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Nasional Telekomunikasi (Apnatel), Riad Oscha Chalik, saat ini lebih dari 2.000 tower di Indonesia sudah dikuasai oleh investor Amerika Serikat. Masuknya investor asing tersebut melalui penguasaan saham PT Tower Bersama Infrastructure Tbk".
Menurut Ketua Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Transtoto Handadhari, kurang percaya diri pemerintah dalam memutuskan kebijakan memanfaatkan sumber daya alam dan lahan dimanfaatkan pihak asing. Mereka menekan dan mendikte Indonesia dengan berbagai hal (Kompas, 30 November 2010).
Lihat, sudah ada cuplikan-cuplikan keprihatinan dari ahli-ahlinya sumberdaya alam. Bisa dikatakan sudah ada keprihatinan lintas-sumberdaya alam, sehingga memang realitas bahwa sudah semua sumberdaya alam kita tidak ada yang luput dijarah habis-habisan.
Ada kawan beritahu saya bahwa hal ini sudah lama terjadi. Dan bahwa seolah-olah saya baru dewasa kemarin sore. Saya katakan kepadanya bahwa sudah lama pula kita cuma ngomong doang. Dan memang bangsa kita sudah dewasa, tetapi memilih untuk tetap tidak bijaksana. Tidak ada sikap politik dan perbuatan nyata dari segenap komponen bangsa yang sehati seirama dari Bangsa Besar ini untuk menyelamatkan Ibu Pertiwi dari perkosaan bangsa kapitalis sejak kita dijajah kapitalis VOC ratusan tahun yang lalu. Sepertinya, diperkosa itu nikmat.
Coba juga baca ini : di Pontianak, Kompas, - "PT Perusahaan Listrik Negara berencana menambah pembelian listrik dari Malaysia sebesar 200 megawatt untuk menekan biaya operasional di Kalimantan Barat. Selama ini PT PLN Wilayah Kalbar sudah membeli listrik dari Malaysia sebesar 600 kilowatt untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di perbatasan Kalimantan Barat-Serawak (Malaysia). Pembelian listrik dari Malaysia semacam ini diharapkan hanya sementara, selama proses pembangunan dua pembangkit listrik tenaga uap di Kalbar selesai. Kedua PLTU terkait diharapkan bisa memenuhi kebutuhan listrik pada beban puncak yang mencapai 240 MW. Bahkan, Kalbar berencana menjual kelebihan dayanya ke Serawak". Yakinkah anda ini solusi cerdas atau just another stupid solution?
Mengapa negara (yang) kaya sumber daya alam (justeru) miskin?.
Seperti diberitakan Kompas, Selasa, 23 November 2010, hal ini dibahas sebagai ironi dalam Konferensi Anti-korupsi ke-14 di Bangkok, Thailand, 10-13 November 2010 kemarin juga. Eleanor Nichols dari Global Witness, salah seorang pembicara di konferensi itu menunjukkan sejumlah negara yang digolongkan miskin sebenarnya memiliki kekayaan bear, namun, "hanya dinikmati para elite dan perusahaan ekstraktif". Dia mencontohkan skandal korupsi yang dilakukan mantan Presiden Turkmenistan, Niyazovterus, yang baru-baru ini meninggal ketahuan menyimpan dana hingga 3 miliar dollar AS dari pendapatan kilang minyak dan gas lepas pantai. Uang itu disimpan di sejumah nomor rekening, yang terbesar di Deutsche Bank, Frankfurt, Jerman. Contoh lain adalah Angola, salah satu negara termiskin di dunia. Satu dari empat anak di negara tersebut meninggal sebelum berusia lima tahun. Satu juta penduduk negeri ini bergantung kepada bantuan internasional. "Namun, dari penyelidikan IMF pada 2004, ditemukan dokumen yang menunjukkan, lebih dari 1 miliar dollar AS per tahun dari pendapatan minyak negara itu (sekitar seperempat dari pendapatan tahunan negara) ditransfer ke luar negeri sejak 1996". Lebih lanjut dikatakan, "kerentanan korupsi dalam sektor SDA itu diantaranya disebabkan oleh teknis pengelolaan SDA cukup rumit, mulai dari eksplorasi, lisensi, kontrak, aturan, harga, distribusi, hingga penjualan". "Industri SDA cenderung tersentralisasi dan tidak banyak pemainnya. Kontrol atas sda juga menjadi hak negara atau pemerintah daerah. Di negara korup, sektor ini menjadi alat untuk mencapai tujuan politik partai atau pribadi pemegang kekuasaan," ucap Alexandra Gillies, Peneliti dari Universitas Cambridge, UK. Dimana, iklim koruptif itu menguntungkan korporasi karena "mereka bisa mendapatkan kontrak yang cukup menguntungkan, cukup dengan menyuap sejumlah pejabat setempat".
Bangsa kita tidak pandai berdiplomasi. Mari tengok sejarah sebentar. BRM Ontowiryo, yang lebih dikenal sebagai Pangeran Diponegoro, ditangkap oleh Belanda dengan cara licik, lewat perundingan. Kapitan Kakiali dari Ambon, 1634-1643, pada tahun 1635 ditangkap Belanda juga melalui tipu daya perundingan dan dibuang ke Batavia, Cut Nyak Dien tertangkap Belanda karena dikhianati Pang Laot, di perjanjian Renville, yang diwarnai perdebatan keras mulai tanggal 8 Desember 1947 hingga 17 Januari 1948, bangsa kita "dikadalin" habis-habisan oleh londo. Perjanjian Bongaya 1667, diteken oleh Sultan Hassanudin karena kalah perang dengan Belanda yang isinya memecah belah Bima dan Makassar. Masih banyak lainnya, namun intinya teuteup : Bangsa kita ini tidak jago bernegosiasi, lemah daya tawarnya, banyak "pengkhianat"nya, gampang bener diadu domba dan dipecah belah.

This Is Indonesia! INDONESIA.
Sulit sekali ya untuk bekerjasama ketika
yang ada di otak kita masing-masing sebagai komponen bangsa adalah cuma bagaimana bisa beli Bugatti Veyron secepatnya, untuk gengsi dan status sosial, untuk apapun alasan anda, namun untuk kemudian -- supersport paling mahal dan cepat di dunia saat ini, dengan spesifikasi mesin 8.0 litre, mesin 16 silinder, turbo dan intercooler yang lebih besar, 1.183 BHP, yang bisa dilarikan dari posisi diam ke kecepatan 124/MPH hanya dalam waktu 7 detik, -- dilarikan tidak lebih dari.......0-40 km/jam karena macet dan banjir di Jakarta. Haha. Eh, tapi serius, saya BELUM MELIHAT SATUPUN ada Bugatti Veyron keliaran di jalanan di Jakarta. Ternyata, ada juga sesuatu yang masih dianggap mahal ya. Ternyata, segitu doang?.

Mengapa saya posting beginian? Karena masih kata pak Batubara :
"Saya justru berharap pada media yang bisa terus menyuarakan kepentingan nasional yang terancam ini. Jangan sampai pengusaha lokal bermain di sektor yang sebenarnya sulit untung, tetapi usaha strategis yang sangat menguntungkan justru ditawar-tawarkan ke asing," katanya."
Yup, ini salah satunya, citizen-jurnalism. Relax Mr. Coal, i think i've shouted it loud and clear, kecuali mereka semua budheg dan tuli.

Selasa, November 16, 2010

Life Begins Before Forty

Familiar dengan tag Life Begins at Forty?.
Jika Elang, (lihat cerita lengkapnya disini), -- yang mampu hidup hingga umur 70 tahun --, harus memilih keputusan berat pada usia 40 : menunggu kematian atau melalui proses menyakitkan dengan mencabuti bulu, cakar selama beberapa bulan supaya bisa tumbuh baru dan menjalani sisa 30 tahun terakhirnya dengan fresh, , maka what about us, human beings?.
Anda percaya dengan tag itu? Tag yang juga jadi judul lagu karangan John Lennon dan merupakan judul buku Walter B. Pitkin di tahun 1932,
dan juga judul sebuah film tahun 1935 yang dibintangi Will Rogers itu mashyur bukan kepalang. Anda merasa tag itu pas dengan kehidupan anda saat ini? Ataukah anda sekarang sedang dalam progress mempersiapkan dan memenuhi fantasi dari tag itu?.
Kenapa harus menunggu forty ya? Bagaimana jika before forty anda sudah live ur life. Bagaimana juga dengan anda-anda yang justeru merasa nggak begin-begin lifenya padahal sudah lewat dari forty?. Anda merasa cemas? Gelisah? Atau anda justru baru tahu ada tag seperti itu sekarang dan malah jadi kepikiran lantas introspeksi diri dan terbai'at dengannya? Emang gue pikirin. Maksudnya, alangkah tepatnya jika anda punya EGP-mentalism itu. Jangan-jangan tag buatan kaum kapitalis juga tuh : mengedepankan perencanaan hidup yang matang. Padahal hidup semestinya penuh dengan kejutan supaya lebih warna warni. Lihatlah program anak ras unggulan yang pernah dijalankan oleh Himler, pada masa Hitler-Jerman, demi untuk menciptakan generasi ras unggulan dalam kerajaan 1000 tahunnya Hitler, maka anak-anak Jerman yang dianggap ras unggulan being taken dari keluarga intinya. Berpuluh-puluh tahun kemudian ketika Hitler tumbang yang tersisa adalah generasi menyedihkan yang kehilangan orangtua aslinya. Lost Generations karena mereka tidak tahu lagi siapa orangtuanya dan siapa saudara/i nya. Itulah mengapa isi dunia ini semestinya tidak seragam, membosankan. (Btw, itu illustrasi yang sesuai nggak sih ya?).
What's the point dengan tag itu? Apa substansi hakiki yang sesungguhnya hendak dibuktikan tag itu kecuali pencapaian material, pencapaian karier tertinggi, kehidupan keluarga yang mapan. Beberapa -- termasuk saya -- memaknai forty sebagai masa "reses", masa "jeda", masa bersiap mental dan spirituil untuk hal-hal non sekuler. Tapi, what the hex lah, toh saya penganut aliran life begins before forty kok. Bisa saja mulai persis ketika anda lahir, atau bisa juga persis ketika umur masih 39 tahun 11 bulan, kan?.
Masalahnya bukan kapan anda akan memulai hidup anda, saya rasa. Lebih kepada bagaimana anda menjalani hidup anda tepatnya. Di jaman hidup modern dikepung oleh ide konsumtif dan kerangkeng materialisme 24/7 di sekitar kita, maka tawaran hidup yang tidak mengidolakan segala sesuatunya, peace, tidak mengkultuskan individu, bersahaja, pola sehat serta kembali ke alam menjadi sangat tidak populer.
Mental bahwa hidup itu merdeka 1000%, bukan underbouw siapapun, bukan anakbuah siapapun, pemimpin dan penguasa bagi diri sendiri saja, bukan orangnya si anu, bukan keluarganya si anu, tidak repot mikirin karier, tidak ngoyo ngumpulin harta benda, tidak perlu politik rumit-rumit untuk sekedar bisa dapat uang atau rejeki, tidak bergantung kepada siapapun dan apapun, tidak perlu melacurkan diri dan/atau idealisme supaya bisa dapat kekuasaan atau materi, bisa buat hidup anda lebih nyaman kok. Tidak ada ikatan, lepas bebas dari segala bentuk keterikatan duniawi rasanya ringan. Seperti bunga dandellion yang lembut tertiup angin melepaskan benih-benihnya terbang untuk kemudian ia menjadi dandelion-dandellion baru.
Well, udah dulu yah, yuk nonton Undercover Boss, episode "Hooters" nih, bagus pesan moralnya. Andai pimpinan-pimpinan mau melakukan undercover boss kayak serial itu yah. Lain kali deh gw ceritain maksud gw itu.


Senin, November 15, 2010

Bye Bye Balapan

Congratulations Vettel. U r The Youngest F1 World Champion Ever. WC at 23 years 4 months, menggeser rekor Lewis beberapa tahun lalu . You're the Man!. Mantab lihat Vettel menjadi juara dunia F1 2010. Ialah juara dunia yang tidak ada keraguan didalamnya mengingat dominasi RedBull sepanjang musim 2010 memang layak mereka juara dunia.
Alonso, eks-juara dunia 2 kali, yang menjelang GP Abu Dhabi lebih diunggulkan malah berakhir anti-klimaks kerana tertahan Petrov dan Kubica sepanjang laps sehingga ia hanya finish di urutan 7. Padahal jika mau juara ia harus finish setidaknya di posisi 2, jika Vettel sebagai pemimpin lomba atau finish tidak lebih dari 7 jika Webber pemimpin lomba. Ia menumpahkan kemarahannya setelah melewati garis finish kepada Petrov dengan mengacung-acungkan tangannya. Satu lagi Childish attitude dari Alonso. Ia gagal menyejajarkan namanya sebagai atlet Spanyol dari bidang F1 yang berjaya di tahun ini . Atlet-atlet Espanyola yang lain berjaya macam Jorge, Contador, Nadal, Carloz, dan tak lupa, Timnas "Matador" Spanyol yang jaya di PD 2010 kemarin.
Memang, kubu Ferrari tahun ini agak terseok-seok, mereka baru berhasil sedikit mengembangkan mesin menjelang putaran akhir atau paruh kedua musim ini, namun hasil itu tidak selalu mulus alias tetap saja mesin mereka kalah kencang bahkan dengan Renaultnya Vetrov. Mereka juga sering skandal (jepit) menerapkan team order. Pokoknya, by any means lah mereka berstrategi supaya bisa juara. Cuma strategi itu pulalah yang membuat mereka gagal di Abu Dhabi kemarin. Ngapain juga harus masuk pit dua kali?. Naif.
Buat saya, namanya juga bisnis balapan, usahakan saja setiap musim anda bisa menyalip sebanyak-banyaknya mobil lawan anda sehingga anda di setiap akhir seri bisa naik podium entah satu, dua atau tiga. Nggak usahlah pake team order segala, terapkan ajah "pasar bebas pebalap" macam di RedBull tahun ini, kayaknya lebih sportif euy. Lihat juga tuh McLaren, usahakan saja kencang sepanjang musim. Bahkan di Abu Dhabi duo mereka finished podium 2 dan 3. Sederhana saja, yang saya bilang tadi namanya juga balapan, balap aja semua, pasti anda jadi yang terdepan sepanjang seri dan dijamin anda jadi Juara Dunia.
Terlalu mempermudah? Tentu saja. Saya mafhum banyak interkoneksi teknis rumit di F1, tapi mobil kencang tetap bukan segala-galanya , it's all adrenalin!.
Well, gila juga saya nulis review F1 ini setiap minggunya. Pastinya kalo nggak punya passion sama balapan, saya pasti nggak akan rajin begini. Apalagi saya kuliah dulu didekat Balapan juga. Kalo ke Jogja, Kebumen, Bandung, Jakarta, saya juga lebih memilih lewat Balapan. Enak euy, Kalo ke Jogja ngejar pesawat jam 08 pagi dari Balapan juga enak, karena sudah terintegrasi subwaynya dengan Bandara kok.
Sampai jumpa musim depan!

Selasa, November 09, 2010

Bye Bye Baby ! Hold On Ferrari !

Well, Selesai sudah seri MotoGP 2010 dengan race terakhir di Valencia, Minggu, 7 November 2010 kemarin. Maaf saya nulis MotoGP dulu yah, satu satu dulu karena minggu ini mereka diselenggarakan bersamaan dalam satu hari nih. Dengan Jorge melesat menjadi juara dunia 2010 dan podium pertama di seri terakhir ini membuat pabrikan Yamaha mendominasi sepanjang musim. Over all, di klasemen akhir Jorge mendulang 383 poin, disusul Pedrosa dengan 245 poin dan VR ditempat ketiga rider dengan 245 poin. Lucky Yamaha, meskipun musim ini VR didera cedera sejak GP Mugello, Juni 2010 -- yang berefek pada ketidakkonsistenan performanya sepanjang musim ini --, namun rider lapis keduanya, Jorge, ternyata tetap bisa membawa mahkota jua
ra buat pabrikan ini.
Jorge memang kandidat kuat imitator VR di MotoGP, selebrasi humorisnya plek abis niru VR, konsistensi dalam menunggangi motor juga semakin baik. Beruntunglah Yamaha dengan berakhirnya era VR, mereka masih memiliki Jorge, namun julukan "baby" memang layak disandangkan kepada VR. Sejak VR bergabung dengan Yamaha pada 2004 hingga 2010, ia terus mempersembahkan gelar juara dunia, kecuali pada 2006 (Hayden) dan 2007 (Stoner) saja. VR pun tetap mempersembahkan yang terbaik di akhir kontraknya dengan Yamaha yaitu dengan mempersembahkan posisi ketiga di klasemen akhir musim 2010 ini. Not Bad. Bye Bye Baby! VR pun membungkuk dan menciumi motornya sebagai tanda gairah dan sayangnya terhadap tunggangannya yang banyak memberi good and bad times selama ia di Yamaha. Musim depan ia akan berada di Ducati, dengan tantangan baru, tentu saja. Wish u luck, VR.

Dari ajang F1, persaingan semakin sengit. Vettel juara di Interlagos, Brazil, Minggu 7 November 2010 kemarin. Webber ada di posisi kedua dan Alonso ada di posisi ketiga. Atas hasil itu Alonso, Ferrari tetap memimpin klasemen driver dengan 246 poin, disusul Webber dengan 238 poin dan Vettel 231 poin. Tersisa satu race di Abu Dhabi, maka, logika kalkulatornya Alonso cukup finish di posisi dua maka ia adalah juara dunia 2010. Oleh karenanya, penentuan juara dunia kiranya akan benar-benar ditentukan di race akhir esok. Stefano dari Ferrari mengingatkan tim agar tidak pusing-pusing ngurusin angka-angka, namun fokus saja pada strategi pemenangan Ferrari di Abu Dhabi mendatang.
Yang agak mencolong perhatian di seri Brazil kemarin adalah Hulkenberg, Williams. Tidak kurang Alonso dan Lewis harus benar-benar fight dengannya untuk sekedar menyalip. ckckckc. Hulkenberg pun mencuri perhatian ketika persaingan pole didominasi "tiga besar", tiba-tiba ia nyelonong malah jadi pole sitter. Akankah ini jadi pertanda kebangkitan Williams, seperti halnya tanda-tanda kebangkitan Red Bull sebelum menjadi kekuatan besar seperti saat ini? Well, banyak spekulasi ah, kita lihat saja faktanya. Yang saya masih kagum hanyalah kerjakeras Ferrari sepanjang musim ini yang malah membuat hasilnya menjadi semakin membaik di akhir musim dengan "menyumbangkan" Alonso di bursa perebut juara dunia 2010 ini. Ckckckckck.
Will he win the championship?
Tunggu juaranya di Abu Dhabi.

Rabu, November 03, 2010

VR on Third!

Seusai GP Estoril, Portugal Minggu Kemarin, 31 Oktober 2010, VR berhasil menyalip dan menggeser posisi Stoner di podium tiga klasemen sementara. Sekarang ia fokus untuk bisa menang di Valencia, satu seri terakhir untuk musim 2010 ini. Musim depan, 2011, ia sudah memakai seragam merah di Ducati. Stoner menuai hasil mengecewakan karena kelalaiannya sendiri ia jatuh dan tidak dapat melanjutkan balapan di Estoril, yang berakibat posisinya digeser VR.
Well, banyak nonton balapan hampir sepanjang tahun, ndak terasa musim 2010 ini sudah mau tamat. Para pebalap sudah pasti sehat-sehat saja, ada juga sih yang cedera, juga berakhir tragis macam Tomizawa. Sekarang saya tanya ke anda sendiri, anda juga sepanjang tahun ini work ur body out ngga?. Lebih bagus kalo kita sports-addict juga beraktifitas sehat disamping nonton orang doing sport.
Lihat si mbah e ini yang asyik nggenjot sepeda onthel klasiknya, mungkin ia ndak tahu siapa VR, tapi kayaknya ia pintar menjaga kebugaran tubuhnya dengan rutin nggenjot sepeda onthelnya kemana-mana. Atau jangan-jangan ia tahu banyak tentang VR, CS, JL, sehingga dalam batinnya -- ketika ia nggenjot sepeda onthelnya --, ia berasa seperti VR ya??
Xixixixixixi...