Saya sempat nulis tentang almarhum "Super Sic" di season 2011 ini. Saya sempat 'gregetan' juga lihat si rambut kriwil dan badan bongsor ini balapan. Gaya balapnya yang agresif membuat riders lain mengeluarkan komentar. Badannya yang gedhe pun dikomentari sebagai tidak cocok sebagai pebalap. Bahkan beberapa pebalap menjadi korban gaya balapnya. Di sini saya ulas rekam jejak Simoncelli jatuh dan menjatuhkan pebalap lain.
Namun, saya punya kesadaran baru : mungkin memang begitulah sebenar-benarnya balapan. Saya ingat dulu Casey juga suka jatuh bangun di awal-awal kariernya di Ducati musim 2008-2009. Demikian juga Jorge. VR. Sepertinya setiap pebalap besar musti 'jatuh-bangun' dulu sebagai ujian "jatuh cinta"nya pada dunia balapan dan untuk kemudian bersikap lebih gentle kepada tunggangannya..
Hal itu tepat adanya. Di Republik Checz, Sirkuit Byrno, akhirnya Super Sic bisa naik podium juga di posisi #3. Beberapa pengamat menilai ia berpotensi besar menjadi juara dunia selanjutnya. Sayang, sebelum ia membalikkan prediksi para komentator dan membuktikan dirinya sebagai pebalap ulung, ia harus "finish" terlebih dahulu dibanding rekan-rekan MotoGP lainnya di Sepang, My. Ia membuktikan bahwa ia sangat-sangat jatuh cinta kepada dunia balap motor ini. Ia "jatuh cinta" terakhir kalinya di sirkuit Sepang, My, Minggu, 23 Oktober 2011.
Seri selanjutnya adalah di India. Suasana race mungkin masih berkabung akan memori terhadap Marco. Namun, race must go on. Justeru dengan tetap melanjutkan races selanjutnya mungkin Marco akan bahagia melihat gaya balap kawan-kawannya dari sana.
Bye Super Sic.

0 komentar:
Poskan Komentar