Kamis, Oktober 20, 2011

Komik. Masa Lalu.

Era tahun 80-an, saya suka sekali baca komik. Saya masih di bangku Sekolah Dasar. Saat itu, setelah melalui pemahaman saya setelah dewasa, sebenarnya beruntung bisa membaca komik-komik yang saat ini justeru menjadi komik klasik dan legendarisnya Indonesia. Klasik dan legendaris karena saat ini komik kita  sedang "terjajah" komik luar. Sebenarnya saat itu ada juga komik "luar" yang saya baca.
Saya dekat dengan "Taman Bacaan" kala itu. Juga dekat dengan tetangga rumah yang punya koleksi komik "bejibun". Jadi saya benar-benar kenyang dan tidak haus bacaan yang membuat daya khayal saya selalu ternutrisi dengan baik kala saya masih 'bocah' tanpa perlu keluar uang banyak. Kadang-kadang kawan yang meminjam di TB, setelah selesai saya ikut baca dulu sebelum dikembalikan, irit. Kadang jika ada seri atau sambungan yang baru sudah keluar, kita akan bangga kalau bisa meminjamnya duluan alias bukunya masih bau harum dan kertas-kertasnya masih sempurna, belum ada bekas cairan minuman atau berminyak, kotor, karena. 
Beberapa komik klasik indonesia yang saya baca adalah serial "Mahabarata" dan "Ramayana" karya R.A Kosasih, "Djampang" dan "Si Buta dari Goa Hantu"nya Ganesh TH, "Gundala Putera Petir" Hasmi, "Godam" Sungging, "Kiamat di Kandanghaur" nya Djair, ini merupakan favorit saya, banyak jagoan seperti seri "Malaikat Bayangan" dengan jurus-jurus aneh-aneh : jurus belut putih, jurus cangcorang, jurus lutung, ada "Raja Copet dari Klayan" , karakternya pun beragam : ada si Pi'i, si Tolol, Jaka Sembung, kemudian ada wong londo juga yang jadi jagoan (saya lupa namanya), Ada juga karya-karya Har "Dewi Siluman", Karya Jan Mintaraga dan Teguh S, karya Hans, karya Man, banyak sekali mungkin udah banyak juga saya lupa. 
Karya-karya mereka turut membantu membentuk imajinasi saya karena saat itu banyak televisi masih hitam putih dan siaran TV yang ada cuma TVRI. 
Disamping komik lokal, saya juga addicted to foreign comics such as : Tin Tin-nya Herge, Asterix and Obelixnya Uderzo dan Goscinny, Smurf, Lucky Luke-nya Morris and Rene Goscinny (apakah sama dengan Goscinnynya pencipta Asterix ya?), Marsupillami dan banyak lainnya komik-komik lokal maupun import yang sifatnya "lepas". 
Agak besar sedikit di SMA sekitar tahun 90'an, saya masih juga hobby baca komik. Nakalnya, kadang-kadang di kelas tidak tahan untuk cepat membaca komik, maka buku komik itu saya baca dengan dilapis buku pelajaran yang punya ukuran lebih besar sehingga nampak dari depan seolah saya sedang baca buku pelajaran, haha. Hanya saja tahun 90'an kami sudah mulai kenal dengan -yang sekarang disebut- Manga. City Hunter yang saru abis, detektif Conan, seri Kungfu Boy dari mulai belajar Kungfu hingga alih profesi jadi jago bilyard,  beberapa seri lepas manga lainnya, yang menurut saya bagus dan imajinatif. Komik-komik itu turut mewarnai hari-hari saya kala itu. Thanks to Comics, You make my days.
Saat itu juga sedang booming cerita silat macam Pendekar 212 Wiro Sable karya Bastian Tito, saya juga mengkonsumsinya hingga beberapa seri. 
Mudah-mudahan sih komik Indonesia bangkit lagi kreativitasnya ya, biar generasi muda kita punya memori indah lagi macam masa muda kita dulu yang bisa kita kenang saat ini.
 

0 komentar: