Generasi '70-'80-an masih dapat dikatakan generasi digital. Apalagi jika dibandingkan dengan generasi 2000an. Mengapa saya katakan generasi '70-'80-an "masih" masuk kategori "generasi digital"?. Karena saya beruntung, di era tersebut menjadi saksi perubahan jaman, sejak komputer dan internet belum lazim, hingga kini, pada tahun 2000an, komputer (gadgets) berevolusi dalam aneka rupa-nya dan jejaring internet sudah menjadi bagian hidup sehari-hari yang mutlak.
Dahulu :
Kembali ke masa kecil (tahun '70 - '80 an), jelas di jaman kami, penggunaan komputer dan internet sebagai penunjang kerja dan hidup sehari-hari masih belum lazim. Memiliki telepon dan sambungan telepon rumahan sudah dianggap mewah pada saat itu. TV saja masih hitam putih, model tabung dan belum ada remote controlnya, dan siarannya cuma dari TVRI. Memiliki komputer layar tabung dengan OS WS/Lotus sudah canggih. Ada dulu dikenal dengan pager. Memiliki pager sudah macam orang penting saja saat itu. Bahkan dalam iklim perkantoran, saat itu segala pekerjaan kantor masih lebih banyak dilakukan dengan media mesin tik hingga tahun '90an.
Barulah ketika memasuki akhir tahun '90an ke awal tahun 2000'an terkenal dengan jaman millenium), telepon genggam mulai masuk ke kehidupan orang. Namun, saat itu pun Handphones masih didominasi layar hitam/putih. Bentuk fisiknya masih besar. Boro-boro ada kameranya untuk video call. Operator masih didominasi merk tertentu. Layar belum berwarna seperti saat ini. Masih GSM doang. OS komputer sudah memiliki OS Windows. Saat itu masih Win 93. Keadaan Ini berlaku di kota besar di pulau Jawa, tentunya. Perkembangan era digitalisasi lebih lambat lagi menjangkau daerah-daerah di luar pulau Jawa.
Sekarang :
You name it. Apa yang terjadi sekarang sangat menakjubkan. Evolusi (atau lebih tepat dikatakan revolusi) gadgets luar biasa. Tidak terbayangkan bentuk telepon genggam saat ini yang sangat inovatif dan lifestylish. Makin mengecil, tipis dan praktis. Jenis PDA, BB atau konvensional saja. Pilihan OSnya pun beragam : Java, Symbian, Android, Blackberry, Mac. Apalagi jika kita bicarakan jaringan : 3G/4G, CDMA. Demikian pula evolusi Komputer. Komputer : tablets, notebook, netbook, Layar LCD/LED/3D/4D. Dari yang tebal dimensinya hingga yang ultra thin macam Macbook Air. Kehidupan kerja hampir seluruhnya tergantung dengan gadgets dan jaringan internet itu. Persaingan digital makin menyeluruh namun konsumen juga makin diuntungkan karena akses menjadi mudah menyisakan masalah selera saja. TV? Bahkan sekarang anda -jika mau- dapat menonton TV dengan kacamata khusus untuk mendapatkan sensasi 3D. Dimensinya pun tipis bukan main dengan tingkat ketajaman warna hingga hitungan megapixels. Ini belum jika saya masuk ke ranah dunia fotografi, perekam gambar, media transfer. Banyak sekali hasil revolusi kreativitas manusia hingga hari ini.
Mainan Anak.
Dahulu, saya sempat menikmati mainan "fisik". Ya, Fisik, karena jiwa raga saya menikmati usia kemudaannya dengan bebas merdeka. Saya bermain layang-layang, bahkan saat hujan dengan menggunakan layangan plastik dan tali kenur (tali plastik, jika anda tidak paham apa itu kenur, lawannya adalah "gelasan", tali benang yang dicelup ke pecahan kaca untuk mendapat efek tajam, berguna untuk "adu layangan"). Main layangan saat hujan berat sekali tarikannya, karena terkena hujan dan angin. Tak terpikir jika saat itu ada petir, kemungkinan tersambar besar sekali, fiuuh!. Saya bermain gobak sodor. tokadal di kebun kecapi pak Haji. petak umpet. bola bakar. main karet (haha). Saya berenang di sungai, saat itu ada sungai bersih di pedalaman daerah Cipulir. Juga empang bersih di Depok, disampingnya ada mata air alami hingga lepas masuk empang kami bilas disana. Saya bersepeda antara Bekasi dan Matraman bersama kawan-kawan. Bahkan pada bulan Puasa. Saya mengikuti Pencak Silat "Putera Muhammadiyah", yang saat ujian teori agama, nilai saya unggul dari kawan-kawan yang muslim, hihihi, lucu aja jika ingat sekarang. Saya ikut-ikutan naik truk ke truk hingga sampai Pantai Pangandaran. Saya suka bolos sekolah, bahkan waktu SD. Bolos dari Depok ke Jakarta Kota dengan naik KRL bolak balik bersama kawan. Kadang masih bablas terus hingga Bogor, haha. Ndak ada rasa takut saat itu. Saya bermain bola, ikut kompetisi. Olahraga bulutangkis. Pramuka (Pangkat terakhir kayaknya "Penegak" deh). Buat kami, semua hal dan setiap hari adalah arena bermain dan waktu bermain. Saya bergerak bebas, pikiran dan tubuh!. Saya kampoongan sekali waktu itu. Saat ini pun masih kampoongan ding.
Mainan Anak Sekarang.
Saat ini saya prihatin melihat banyak anak seusia saya tidak memiliki waktu main sebanyak saya. Mainan anak sekarang adalah PS3, Wii, Nintendo, Angry Birds, Facebook, Twitter, Friendster, My Space, Yahoo Messenger, Google+, dsb. Tidak ada yang salah dengan hal itu semua. Hanya proporsi mereka sepertinya mengambil alih 80% waktu bermain anak secara fisik. Layak jika banyak anak seusia SD sudah banyak yang menggunakan kacamata. Argumentasinya adalah perkembangan jaman yang kompetitif membuat orang tua ingin setiap diri anaknya fully loaded dengan "setiap peluru" yang bisa dibelinya demi masa depan. Tidak ada yang salah dengan hal-hal itu. Yang terpenting perhatikan proporsi waktu bermain fisik. Karena jika saya boleh berpendapat, hampir 80% seumur hidup saya habiskan waktu dengan bermain. Ingatlah, "Orang tua sebenarnya adalah anak kecil dalam tubuh orang dewasa" ;)
So, enjoy life. Live ur life to the fullest. Mind Nothin', have fun, go mad!
Tabik.


2 komentar:
Jaman...memang terus berubah, kadang sangat susah mengikuti perkembangan jaman, terutama kemampuan finansial yang tidak terlalu mendukung.
Yang penting tidak tergilas jaman saja.
yup, betul. Sekarang ini eranya survival of the most adaptif, bukan lagi survival of the most fittest ;)
Poskan Komentar