"God has no phone but I talk to Him. He has no Facebook but He is still my friend.
He does not have a twitter but still i follow Him".
Awalnya adalah kemajuan teknologi. Meluasnya cakupan teknologi. Kemudian kemurahan Teknologi. Selanjutnya kemudahan teknologi, yang diiringi kesadaran dan pengetahuan berteknologi dalam mengoperasikan dan daya beli teknologi dari masyarakat. Sekarang, tidak ada yang tidak memiliki akun di media sosial. Friendster. Facebook. Twitter. Yahoo Messenger. WhatsApp. Blackberry Messenger. AOL. Foursquare. Bing. Wordpress. Blogger. Google+. Banyak sekali. Tergantung aktualisasi diri macam apa yang kita ingin pamerkan, semua sudah ada medianya tinggal pilih sesukanya. Free.
Jarak dan waktu saat ini bukan penghalang untuk tetap berkomunikasi secara real time. Live. Dalam format suara, gambar, video, atau gabungan dari segala format itu.
Maka, sekarang, konsekuensinya adalah, jika anda juga "aktivis" sosial media, anda akan banyak sekali melihat kawan anda mendadak menjadi "cerewet dan pandai merangkai kata" dan "makin pandai mematut diri" di media itu. Mulai dari hal yang sangat penting hingga remeh temeh dus tetek bengek. Dari khotbah rohaniwan hingga sumpah serapah bajingan tengik. Dari pencitraan diri apa adanya hingga mencitrakan diri dengan bantuan Photoshop. Dari informasi akurat terpercaya hingga Hoax dan fitnah. Dari yang lucu hingga menyedihkan. Dari surfing wisata maksiat hingga surfing wisata rohani.
Menyenangkan?. Menyedihkan?. Media sosial netral pada prinsipnya. Kebijakan penggunalah yang disarankan sebagai filter. Sebagai "aktivis" oleh karenanya saya akhirnya juga menerima keadaan bahwa terkadang saya harus membaca status semacam : "BeTe". "Makan Dulu". "Tidur lagi ahhh...". "I luv my family". Dan sebagainya. Aneka ragam. Wong isi kepala kawan-kawan riil tapi maya saya juga beragam tho?. Kategorinya hanya penting atau tidak saja. Level yang rendah lagi adalah bersosialisasi di medsos hanya untuk membunuh waktu saja.
Sehingga, jika anda baca postingan saya ini, maka (mungkin) ini termasuk kategori yang "mendadak pandai merangkai kata" di media sosial atau apalah terserah kategori anda. Tidak lebih. Atau, di level yang lebih rendah, untuk membunuh waktu saja seraya tetap konsisten menuliskan hal-hal yang tidak penting, supaya hal yang penting tetap penting :)Tabik.
(gambar pinjam di Google)
0 komentar:
Poskan Komentar