Di Jakarta, baru buat lajur pendek sepeda saja sudah merasa paling bersahabat dengan lingkungan. Sudah go green, katanya. Padahal, paling-paling panjang totalnya saya perkirakan tidak lebih dari 5 kilometer saja di seluruh Jakarta. Itupun baru tahun ini saja direalisir oleh Pemerintah Kota Jakarta dan tidak terkoneksi dengan baik alias tidak menghubungkan seluruh jalan di ibukota. Masih banyak dijumpai jalur sepeda yang " suddenly disconnected". Tapi setidaknya upaya ini bolehlah dihargai. Pasti sulit buat kebijakan di satu kota yang dihuni puluhan juta penduduk. Bayangkan dengan Australia, yang saat saya tulis ini jumlah penduduk totalnya "hanya" 22 juta!. 
Di Sydney, ada monorail, yang di Jakarta cuma jadi mimpi alias too good to be true. Kata teman, tentu saja pemerintah Jepang tidak mau serius membangunkan monorail untuk Jakarta, khususnya, karena mereka jelas ingin banget produk kendaraannya tetap laku alias buat mereka Indonesia adalah pangsa pasar besar buat produk-produk kendaraan Jepang. Hampir 8 dari 10 Kendaraan baik mobil maupun motor yang "berkeliaran" di Jakarta adalah made in Japan. Jika semua Jakartans sudah insaf dan mulai menggunakan sepeda atau public transportation, bisa berkurang persentase penjualan Jepang dong!. Untungnya, Indonesia sempat mengiklankan Maskapai Penerbangan Nasionalnya, Garuda Indonesia, di Monorailnya Sydney, setidaknya bangga nama Garuda Indonesia bisa keliling-keliling Sydney, haha.
Rambu-rambu jalan menjadi "hukum" yang sudah bersuara lebih keras ketimbang menempatkan Petugas Polantas di setiap perempatan, seperti di Jakarta. Maklumlah, karena denda disana sangat mahal. sebagai illustrasi, memakai plat Nopol kendaraan modifikasi saja alias bukan yang asli buatan negara bisa di denda hingga Aus $ 400-500!. Tapi asyiknya, plat nopol kendaraan disana bisa pilih warna. Tidak didominasi warna hitam seperti di Indonesia.Ada sekitar 7 pilihan warna. Plus membuat SIM disana sangat mahal dan masih harus memenuhi kulaifikasi teknis tertentu. Jika anda sudah dapat SIM, kategori pertama anda adalah L (Learner). Perlu beberapa tahun untuk mencapai level P (Professional), fiuhh!. Berat kan? Sudah begitu, ditetapkan pula beberapa jalur jalan yang dilengkapi dengan speed trap berkamera teknologi tinggi. Don't even think to try.Menyenangkan dapat berkunjung ke Kota Ramah buat Para Pesepeda ini. Banyak juga mahasiswa Universitas di Canberra yang asal Indonesia. Disela waktu kuliahnya, mereka nyambi jadi partimer. Lumayan. Untuk 1 jam bisa dapat bayaran hingga Aus 20 $. Saya sempat ketemu salah satunya di Questacon. Ia asal Bandung, yang juga bersama isterinya tengah ambil Master di Canberra.
Sementara saya sedang di Sydney, saya dengar kabar buronan korupsi lokal kita, bu Nunun Nurbaeti ternyata sudah ketangkap di Bangkok. Shit! Terus ngapain saya lama-lama di sini, pulang aja deh. Ternyata dia ada di Bangkok, bukan di Australia. Damn!. Salah info nih. Maaf. Punten.
Bye-bye Mike!.

2 komentar:
Hehe... Mumpung lagi di Sydney harus cari banyak ide tulisan buat diposting.
yup. correct. thats what i did lately. Next? just wait and see :)
Poskan Komentar