Sabtu, Desember 10, 2011

Kota Ramah buat Pesepeda.

 
Di Jakarta, baru buat lajur pendek sepeda saja sudah merasa paling bersahabat dengan lingkungan. Sudah go green, katanya. Padahal, paling-paling panjang totalnya saya perkirakan  tidak lebih dari 5 kilometer saja di seluruh Jakarta. Itupun baru tahun ini saja direalisir oleh Pemerintah Kota Jakarta dan tidak terkoneksi dengan baik alias tidak menghubungkan seluruh jalan di ibukota. Masih banyak dijumpai jalur sepeda yang " suddenly disconnected". Tapi setidaknya upaya ini bolehlah dihargai. Pasti sulit buat kebijakan di satu kota yang dihuni puluhan juta penduduk. Bayangkan dengan Australia, yang saat saya tulis ini jumlah penduduk totalnya "hanya" 22 juta!. 
Di ibukota pemerintahan Australia, Canberra, pesepeda sangat dimanjakan oleh kota. Bike lines ada di seluruh kota. Selama ada jalanan untuk transportasi, selama (atau sepanjang) itulah bike lines ada di setiap sisi luar/bahu jalan!. Kecuali jika jalan kemudian akan terhubung dengan highway atau toll, maka berhentilah bike lines, dengan cara dialihkan keluar jalur utama, namun disambung lagi di luar highway, superb!. Tempat parkir sepeda pun tertata rapi dan banyak, sehingga tidak membuat sungkan jika anda bikers dan hendak bepergian untuk memarkir sepeda anda.
Tata kotanya membuat iri. FYI, Canberra dibangun dengan terlebih dahulu dilakukan sayembara. Sang pemenang sayembara (yang juga urban planner) adalah Walter Burley Griffin dan Marion Mahony Griffin, keduanya orang Amerika. Kota ini dibangun dengan konsep kota taman (garden city), sehingga jika anda disana terasa sekali Canberra sebagai Taman yang Luas ketimbang sebagai sebuah kota dengan jumlah penduduk "cuma" 350 ribu jiwa. Jangan heran jika banyak unggas, burung yang berkeliaran bebas di kota ini tanpa terusik. Kesannya klasik, berbaur modernitas dan alam.


Pedestrians juga punya hak istimewa disini. Pengendara kendaraan sangat mendahulukan pejalan kaki. Semua ini ditunjang infrastruktur yang memadai. Jarak antara rumah/kantor dan bahu jalan raya sekitar 4 meter. Sebelumnya terdapat trotoar bagi pedestrians dengan lebar sekitar 1 meter. Nyaman. Aman. 


Di Sydney, ada monorail, yang di Jakarta cuma jadi mimpi alias too good to be true. Kata teman, tentu saja pemerintah Jepang tidak mau serius membangunkan monorail untuk Jakarta, khususnya, karena mereka jelas ingin banget produk kendaraannya tetap laku alias buat mereka Indonesia adalah pangsa pasar besar buat produk-produk kendaraan Jepang. Hampir 8 dari 10 Kendaraan baik mobil maupun motor yang "berkeliaran" di Jakarta adalah made in Japan. Jika semua Jakartans sudah insaf dan mulai menggunakan sepeda atau public transportation, bisa berkurang persentase penjualan Jepang dong!. Untungnya, Indonesia sempat mengiklankan Maskapai Penerbangan Nasionalnya, Garuda Indonesia, di Monorailnya Sydney, setidaknya bangga nama Garuda Indonesia bisa keliling-keliling Sydney, haha. 


Rambu-rambu jalan menjadi "hukum" yang sudah bersuara lebih keras ketimbang menempatkan Petugas Polantas di setiap perempatan, seperti di Jakarta. Maklumlah, karena denda disana sangat mahal. sebagai illustrasi, memakai plat Nopol kendaraan modifikasi saja alias bukan yang asli buatan negara bisa di denda hingga Aus $ 400-500!. Tapi asyiknya, plat nopol kendaraan disana bisa pilih warna. Tidak didominasi warna hitam seperti di Indonesia.Ada sekitar 7 pilihan warna. Plus membuat SIM disana sangat mahal dan masih harus memenuhi kulaifikasi teknis tertentu. Jika anda sudah dapat SIM, kategori pertama anda adalah L (Learner). Perlu beberapa tahun untuk mencapai level P (Professional), fiuhh!. Berat kan? Sudah begitu, ditetapkan pula beberapa jalur jalan yang dilengkapi dengan speed trap berkamera teknologi tinggi. Don't even think to try.
Menyenangkan dapat berkunjung ke Kota Ramah buat Para Pesepeda ini. Banyak juga mahasiswa Universitas di Canberra yang asal Indonesia. Disela waktu kuliahnya, mereka nyambi jadi partimer. Lumayan. Untuk 1 jam bisa dapat bayaran hingga Aus 20 $. Saya sempat ketemu salah satunya di Questacon. Ia asal Bandung, yang juga bersama isterinya tengah ambil Master di Canberra. 


Sementara saya sedang di Sydney, saya dengar kabar buronan korupsi lokal kita, bu Nunun Nurbaeti ternyata sudah ketangkap di Bangkok. Shit! Terus ngapain saya lama-lama di sini, pulang aja deh. Ternyata dia ada di Bangkok, bukan di Australia. Damn!. Salah info nih. Maaf. Punten.
Bye-bye Mike!. 



2 komentar:

Grace Receiver mengatakan...

Hehe... Mumpung lagi di Sydney harus cari banyak ide tulisan buat diposting.

AB.SatriaTataka mengatakan...

yup. correct. thats what i did lately. Next? just wait and see :)