Selasa, Desember 27, 2011

Yakin Elo Tulus?

"Live without pretending, love without depending, 
listen without defending, and speak without offending"


Suatu saat saya ke luar angkasa. Mengambil jarak dengan bumi. Melayang di atmosfir tanpa oksigen. Melayang diam tak tersentuh gravitasi. Memandangi bumi dari sudut tertentu di ketinggian menyamankan hati. Ia indah. Bola biru keputihan bercampur hijau dan abu-abu. Tepat di ujung sana, di lengkungan horisonnya, di batas langitnya, terhampar semesta raya. Hitam pekat dengan bintang bertaburan. 
Disini tenang. Hening.Tidak terganggu bising apapun.
Saya biasa berdiam diri berjam-jam lamanya disini. Hanya untuk menikmati hening. Mendetok semua isi otak. Mencarikan jalan keluar semua pikiran tak terungkapkan. Mendamaikan hati. Menyelaraskan kembali diri dengan alam semesta raya. Saya merasa sangat kecil di hadapan keperkasaan semesta. Menyegarkan mengetahui seluruh tubuh, pikiran dan jiwa kembali konek dengan energi alam raya. Energinya melembutkan jiwa. Yang bisa saya lakukan adalah menikmati sapaan lembut energi itu di setiap aliran darah. Andai saja saya tidak perlu setiap kali me-recharge-nya. 
Sayangnya, hal itu tidaklah mungkin. Kehidupan saya, anda, kita semua, di planet bumi di bawah sana itu, sarat dengan semua strategi, taktik, teori, apapun namanya, atas nama "bertahan hidup". Baik yang halal maupun yang haram. Masing-masing kita adalah "senjata mematikan" bagi sesama untuk sebesar-besarnya kepentingan hidup kita. Bahkan seumur hidup kita "mengasah diri" agar dapat menjadi "senjata ampuh" atas nama "masa depan". 
Kill or to be Killed. Kita semua tahu dalil itu. Asumsi saya, anda adalah baik hati. Hanya, apa syarat tulusmu?. Berapa persentase tulus kita sebenarnya bagi sesama?. Beberapa berterus terang bahwa setelah hidup duniawinya sudah tercukupi, maka barulah saatnya memikirkan kebutuhan sesama yang masih kekurangan. Kapankah cukup itu? Absurd. Jika demikian, itu adalah tulus yang pending.
Seberapa seriusnya anda berbaik hati kepada lainnya?. Yakinkah kebaikan hati anda tidak mengharap pamrih?. No such a free lunch, huh? Jangankan berniat buruk, berniat baik pun kadang diterima buruk. Marilah kita bermain peran. Sesuatu yang kita sangat jago dan  mahir memainkannya di hidup fana ini, bukan?. Maka, tulusmu adalah peran kepura-puraan. Senyum manismu adalah senyum Judas. Dimainkan manakala diperlukan. Demi karier. Demi gengsi. Demi apapun agar leybih mudah meraihnya. Tulusmu dihitung cermat dan detail dengan kalkulator. Tulusmu digunakan hanya untuk mendapatkan masukan data demi kepuasan  kelebihan atas  kekurangan sesama. Maka, itu adalah tulus dengan syarat dan ketentuan berlaku *). 
Sebagian lagi tulus mendengarkan semua keluhan kawan. Bagaikan keranjang sampah tanpa dasar. Namun untuk kemudian menyimpannya sebagai Kartu As di kemudian hari agar dapat digunakan untuk menjatuhkan sesama?. Atau untuk kemudian bermain peran bak sufi suci tak bercela?.  Sebagian lagi berbicara dengan lembut. Merayu. Mendayu-dayu meyakinkan. Yang bagi telinga saya terdengar justeru bagai desisan ular berbisa. Yakinkah anda mendengarkan dengan tulus? Tanpa kemudian berapi-api melakukan pembelaan atas salahmu sendiri. Yakinkah anda berbicara dengan lembut dan tulus, tanpa kemudian menggunakan kata-kata secara agresif dan ofensif untuk "melukai" sesama?. Tidak pulak menggunakan kata-kata hanya untuk pencitraan belaka 'kan?. Jika tidak, maka nama sebenarnya adalah tidak tulus dengan cerdik.    
Tulus tidak semestinya multitafsir. Tulus ya tulus. Lain dari itu ya tidak tulus namanya. "Kebohongan dan ketulusan sebenarnya sudah bisa dibaca dari dengus nafas dan kilatan mata", kata mas @Prie_GS. Tidakkah hidup tidak tulus membuat lelah?. Penuh perhitungan untung rugi. Semuanya serba dikalkulasi. Bermain peran atas nama tulus demi fulus. Penuh prasangka.
Saya sih tulus-tulus saja menulis tema tulus ini. Semoga dibaca dengan tulus, without pretending. 


Tabik.




2 komentar:

Grace Receiver mengatakan...

Saya dengan tulus mengharapkan komentar saya ini segera di-publish. Hehe...

AB.SatriaTataka mengatakan...

ya deh, saya publish komen mu ini dengan tulus, jauh dari prasangka apapun dan pretensi apapun jua sekaligus saya berbesar hati menerima segala kekuranganmu juga, wkwkwk