Kamis, Desember 29, 2011

A Loving Silence

"Mengurus kekuranganku saja aku kekurangan waktu, 
apalagi mengurus kekurangan orang lain". 

Saya suka sekali berhening diri di "kapsul waktu" ini. Melayang tanpa pengaruh gravitasi lagi di lapisan yang kemungkinan namanya adalah eksosfer. Saya tidak tahu. Saya bukan fisikawan. Tidak perlu khawatir dengan nihilnya oksigen. Saya kira saya tidak hanya secara fisik disini.  Diam. Mencerap energi perkasa semesta sebanyak-banyaknya. A loving silence often has far more power to heal and to connect than the most well-intentioned words. Itulah mengapa keheningan selalu menjadi karib akrab saya.
Nun jauh di bawah sana, di Planet Bumi itu, sekumpulan mahluk hidup dalam jumlah milyaran terjebak dalam kesehariannya sibuk menjalani hidup dan bertahan hidup. Bising. Riuh. Terperangkap. Life is the biggest trap you'll ever get caught in, because it's impossible to get out alive.
Suara bising dan hiruk pikuk buat saya terkadang bukan pertanda sukacita. Itu lebih kepada pertanda kerakusan. Mereka terjebak dalam pola yang baku setua umur bumi itu sendiri. Saya dengar ada banyak "agama" dan doktrin "iman" di planet itu yang umurnya juga setua umur bumi. Entahlah, semoga yang mereka sebut sebagai "agama" dan "iman" itu mampu menjadi pedoman atau setidaknya membuat kehidupan mereka bermakna hingga selesainya usia mereka. 
Dalam perangkap besar bernama kehidupan itu banyak sandiwara dipentaskan atas nama bertahan hidup. Why not? It is now the most adaptive that can survive, not the fittest. Panggung sejarah manusia selalu saja diwarnai darah. Saat ini, tetap saja, atas nama kekurangan diri, mereka menjadi penyembah-penyembah berhala modernitas. 
Dalam usia muda anda sudah mengalami kebotakan total?. Obesitas?. Kurus?. Kulit anda pucat? kulit anda hitam?.  Miskin?. Menganggur?. Karier buntu?. Jomblo?. Broken Home? Merasa kurang beruntung?. bodoh?. Gigi anda "mancung"?. Pesek?. Merasa rendah diri karena kalah bersaing? Sebut apa kekuranganmu yang paling kau benci. Dan Voala,  seketika itu pula Iblis menawarkan shortcuts. Ia tidak seketika menjatuhkan buntalan uang di hadapanmu dan mengabulkan keinginanmu dalam kedipan mata. Ia melakukannya dengan gently. Halus. Tersamar. Nyaris tanpa cacat. 
Alih-alih, ia justeru masuk kedalam rasa kekuranganmu yang terdalam. Dibangkitkanlah rasa kekuranganmu dengan perlahan. Hingga akhirnya anda yakin dengan sangat bahwa tidaklah baik memiliki kekurangan. Anda harus lebih daripada yang lain. Kekurangan sebagai individu, kelompok, bangsa, negara sangat memalukan. Tidak dapat diterima. Ia membangkitkan : (1) kesombongan, (2) ketamakan, (3) kedengkian, (4) kemurkaan, (5) percabulan, (6) kerakusan, (7) kelambanan atau kejemuan [acedia] dalam diri. 
Apa yang kita setiap hari akrabi dalam kata : pembunuhan, perampokan, perkosaan, kesewenang-wenangan, korupsi, pengabaian, penghalalan segala cara demi karier, munafik,  Bahkan, Pendakwah di tivi bukan pembebas.Tapi setan selebritas.Yang terkooptasi oleh ketamakan diri dan media, dan lain-lainnya, adalah sebenarnya hanya tujuan akhir dari 7 akar kejahatan paling mematikan yang ditawarkan iblis. Ia cerdik. Ia masuk ke dalam apa yang dimaui hati terdalam manusia. Ia menyuburkan sombongmu. Tamakmu. Dengkimu. Murkamu. Cabulmu. Rakusmu. Iri hatimu. Kadang ia menang lotere. Kadang ia kalah. Namun yakinlah, followernya bertambah setiap hari.
Sepanjang manusia tidak memandang kekurangannya sebagai pelengkapnya supaya sempurna menjadi manusia, maka iblis akan selalu menang lotere. 
Maka, kepala anda botak?. Jason Statham pun botak tapi keren. Tubuh anda gembrot?. Rileks, Big is beautiful. Anda merasa kurus? Rileks, kan ada susu Weight Gain. Perut anda tidak sixpack?. Wah, saya malah tenpack, kok. Think Out of The Box.

Tabik.

Selasa, Desember 27, 2011

Yakin Elo Tulus?

"Live without pretending, love without depending, 
listen without defending, and speak without offending"


Suatu saat saya ke luar angkasa. Mengambil jarak dengan bumi. Melayang di atmosfir tanpa oksigen. Melayang diam tak tersentuh gravitasi. Memandangi bumi dari sudut tertentu di ketinggian menyamankan hati. Ia indah. Bola biru keputihan bercampur hijau dan abu-abu. Tepat di ujung sana, di lengkungan horisonnya, di batas langitnya, terhampar semesta raya. Hitam pekat dengan bintang bertaburan. 
Disini tenang. Hening.Tidak terganggu bising apapun.
Saya biasa berdiam diri berjam-jam lamanya disini. Hanya untuk menikmati hening. Mendetok semua isi otak. Mencarikan jalan keluar semua pikiran tak terungkapkan. Mendamaikan hati. Menyelaraskan kembali diri dengan alam semesta raya. Saya merasa sangat kecil di hadapan keperkasaan semesta. Menyegarkan mengetahui seluruh tubuh, pikiran dan jiwa kembali konek dengan energi alam raya. Energinya melembutkan jiwa. Yang bisa saya lakukan adalah menikmati sapaan lembut energi itu di setiap aliran darah. Andai saja saya tidak perlu setiap kali me-recharge-nya. 
Sayangnya, hal itu tidaklah mungkin. Kehidupan saya, anda, kita semua, di planet bumi di bawah sana itu, sarat dengan semua strategi, taktik, teori, apapun namanya, atas nama "bertahan hidup". Baik yang halal maupun yang haram. Masing-masing kita adalah "senjata mematikan" bagi sesama untuk sebesar-besarnya kepentingan hidup kita. Bahkan seumur hidup kita "mengasah diri" agar dapat menjadi "senjata ampuh" atas nama "masa depan". 
Kill or to be Killed. Kita semua tahu dalil itu. Asumsi saya, anda adalah baik hati. Hanya, apa syarat tulusmu?. Berapa persentase tulus kita sebenarnya bagi sesama?. Beberapa berterus terang bahwa setelah hidup duniawinya sudah tercukupi, maka barulah saatnya memikirkan kebutuhan sesama yang masih kekurangan. Kapankah cukup itu? Absurd. Jika demikian, itu adalah tulus yang pending.
Seberapa seriusnya anda berbaik hati kepada lainnya?. Yakinkah kebaikan hati anda tidak mengharap pamrih?. No such a free lunch, huh? Jangankan berniat buruk, berniat baik pun kadang diterima buruk. Marilah kita bermain peran. Sesuatu yang kita sangat jago dan  mahir memainkannya di hidup fana ini, bukan?. Maka, tulusmu adalah peran kepura-puraan. Senyum manismu adalah senyum Judas. Dimainkan manakala diperlukan. Demi karier. Demi gengsi. Demi apapun agar leybih mudah meraihnya. Tulusmu dihitung cermat dan detail dengan kalkulator. Tulusmu digunakan hanya untuk mendapatkan masukan data demi kepuasan  kelebihan atas  kekurangan sesama. Maka, itu adalah tulus dengan syarat dan ketentuan berlaku *). 
Sebagian lagi tulus mendengarkan semua keluhan kawan. Bagaikan keranjang sampah tanpa dasar. Namun untuk kemudian menyimpannya sebagai Kartu As di kemudian hari agar dapat digunakan untuk menjatuhkan sesama?. Atau untuk kemudian bermain peran bak sufi suci tak bercela?.  Sebagian lagi berbicara dengan lembut. Merayu. Mendayu-dayu meyakinkan. Yang bagi telinga saya terdengar justeru bagai desisan ular berbisa. Yakinkah anda mendengarkan dengan tulus? Tanpa kemudian berapi-api melakukan pembelaan atas salahmu sendiri. Yakinkah anda berbicara dengan lembut dan tulus, tanpa kemudian menggunakan kata-kata secara agresif dan ofensif untuk "melukai" sesama?. Tidak pulak menggunakan kata-kata hanya untuk pencitraan belaka 'kan?. Jika tidak, maka nama sebenarnya adalah tidak tulus dengan cerdik.    
Tulus tidak semestinya multitafsir. Tulus ya tulus. Lain dari itu ya tidak tulus namanya. "Kebohongan dan ketulusan sebenarnya sudah bisa dibaca dari dengus nafas dan kilatan mata", kata mas @Prie_GS. Tidakkah hidup tidak tulus membuat lelah?. Penuh perhitungan untung rugi. Semuanya serba dikalkulasi. Bermain peran atas nama tulus demi fulus. Penuh prasangka.
Saya sih tulus-tulus saja menulis tema tulus ini. Semoga dibaca dengan tulus, without pretending. 


Tabik.




Rabu, Desember 21, 2011

Digitalisasi Pencitraan

"God has no phone but I talk to Him. He has no Facebook  but He is still my friend.
 He does not have a twitter but still i follow Him".

 Awalnya adalah kemajuan teknologi. Meluasnya cakupan teknologi. Kemudian kemurahan Teknologi. Selanjutnya kemudahan teknologi, yang diiringi kesadaran dan pengetahuan berteknologi dalam mengoperasikan dan daya beli teknologi dari masyarakat. Sekarang, tidak ada yang tidak memiliki akun di media sosial. Friendster. Facebook. Twitter. Yahoo Messenger. WhatsApp. Blackberry Messenger. AOL. Foursquare. Bing. Wordpress. Blogger. Google+. Banyak sekali. Tergantung aktualisasi diri macam apa yang kita ingin pamerkan, semua sudah ada medianya tinggal pilih sesukanya. Free
Jarak dan waktu saat ini bukan penghalang untuk tetap berkomunikasi secara real time. Live. Dalam format suara, gambar, video, atau gabungan dari segala format itu.
Maka, sekarang, konsekuensinya adalah, jika anda juga "aktivis" sosial media, anda akan banyak sekali melihat kawan anda mendadak menjadi "cerewet dan pandai merangkai kata" dan "makin pandai mematut diri" di media itu. Mulai dari hal yang sangat penting hingga remeh temeh dus tetek bengek. Dari khotbah rohaniwan hingga sumpah serapah bajingan tengik. Dari pencitraan diri apa adanya hingga mencitrakan diri dengan bantuan Photoshop. Dari informasi akurat terpercaya hingga Hoax dan fitnah. Dari yang lucu hingga menyedihkan. Dari surfing wisata maksiat hingga surfing wisata rohani.
Menyenangkan?. Menyedihkan?. Media sosial netral pada prinsipnya. Kebijakan penggunalah yang disarankan sebagai filter. Sebagai "aktivis" oleh karenanya saya akhirnya juga menerima keadaan bahwa terkadang saya harus membaca status semacam : "BeTe". "Makan Dulu". "Tidur lagi ahhh...". "I luv my family". Dan sebagainya. Aneka ragam. Wong isi kepala kawan-kawan riil tapi maya saya juga beragam tho?. Kategorinya hanya penting atau tidak saja. Level yang rendah lagi adalah bersosialisasi di medsos hanya untuk membunuh waktu saja.
Sehingga, jika anda baca postingan saya ini, maka (mungkin) ini termasuk kategori  yang "mendadak pandai merangkai kata" di media sosial atau apalah terserah kategori anda. Tidak lebih. Atau, di level yang lebih rendah, untuk membunuh waktu saja seraya tetap konsisten menuliskan hal-hal yang tidak penting, supaya hal yang penting tetap penting :)


Tabik.




(gambar pinjam di Google)

Jumat, Desember 16, 2011

I Have A Dark Chocolate, As Well.

Setiap orang punya sisi gelap yang tidak ingin orang lain tahu. Yang membuat setiap orang tetap dapat melanjutkan hidupnya adalah karena akhirnya ia "berdamai dengan keadaaan". Secara karikatural berkata, "Hellooo, masa lalu, saya sudah ada disini, di masa kini, so, plis deh, jangan bicara masa lalu lagi ya, saya sudah tidak berada disana, ok?!". 
Indonesia punya masa lalu gelap : G30SPKI. Australia dengan Stolen generation nya atau  "generasi suku Aborigin yang dicuri" alias anak-anak Aborigin dari era tahun 1960, 1970, 1980 yang diambil dari keluarga mereka kemudian diasuh oleh negara agar tumbuh dan berkembang sebagaimana kaum kulit putih pendatang. Tapi itu dulu. Australia sudah tidak berada disana lagi. Mereka sekarang ada di masa kini, present day. Modern. Optimis. "Sang Kangguru sangat serius melayani dan melindungi anak-anaknya".
Bagaimana bisa? Yes, They Can. Pada Tanggal 12 Februari 2002, PM Australia saat itu, Kevin Rudd, MENGUCAPKAN MAAF NASIONAL kepada korban stolen generation Aborigin!.  Luar biasa!. 
Kevin mengatakan bahwa sekira 50,000 anak-anak Aborigin mulai tahun 1880 hingga tahun 1960 an  diambil paksa dari orang tua mereka atas dasar politik asimilasi (Generasi yang dicuri atau orang-orang yang diputihkan). Butuh 11 tahun sejak tahun 1997 bagi Pemerintah Australia untuk mengucapkan maaf secara resmi dengan trigger laporan Komisi Hak Asasi Manusia (HAM) Australia yang berjudul "Bringing Them Home" dalam laporannya menyebut bahwa politik asimilasi adalah "usaha genosida (pemusnahan etnik)".
Kendatipun permintaan maaf Kevin dianggap sebagai "menghilangkan noda besar dari dalam jiwa bangsa Australia", banyak juga yang menganggapnya dengan sinis. Adalah Politikus Garis Keras Wilson Tuckey mengatakan permintaan maaf itu tidak banyak gunanya bagi Aborigin, karena "bukan generasi kami yang mencuri mereka".
Saat ini, dari 22 juta populasi Australia, jumlah Aborigin hanya 2%. Jumlah mereka terus menurun karena angka kematian di kalangan Aborigin cukup tinggi (harapan hidup rata-rata hanya mencapai usia 50 tahunan). Namun, saat ini, kondisi mereka jauh lebih baik. Mereka sudah berbahasa Inggris. Berpakaian seperti kulit putih lainnya. Bahkan, seorang aborigin yang sempat kami temui (lihat foto-foto), bernama Gumbalaa, memiliki dua anak yang raut mukanya sudah tidak terlalu aborigin lagi. memiliki handphone. Menggunakan mobil. memakai sandal Croc yang terkenal itu. Haha..
Bagaimana pemerintah Indonesia "menghilangkan noda besar dari dalam jiwa bangsa Indonesia"?. *krik... krik... krik... << suara jangkrik*. 
Ayo Garuda, kamu juga bisa.

Every single of us has their own dark side.
And I have a dark chocolate, for sure.

Maaf itu memulihkan hati, dan maknanya dalam.  
Tabik.


*Tulisan ini saya posted juga di Kompasiana
   

 

Sabtu, Desember 10, 2011

Kota Ramah buat Pesepeda.

 
Di Jakarta, baru buat lajur pendek sepeda saja sudah merasa paling bersahabat dengan lingkungan. Sudah go green, katanya. Padahal, paling-paling panjang totalnya saya perkirakan  tidak lebih dari 5 kilometer saja di seluruh Jakarta. Itupun baru tahun ini saja direalisir oleh Pemerintah Kota Jakarta dan tidak terkoneksi dengan baik alias tidak menghubungkan seluruh jalan di ibukota. Masih banyak dijumpai jalur sepeda yang " suddenly disconnected". Tapi setidaknya upaya ini bolehlah dihargai. Pasti sulit buat kebijakan di satu kota yang dihuni puluhan juta penduduk. Bayangkan dengan Australia, yang saat saya tulis ini jumlah penduduk totalnya "hanya" 22 juta!. 
Di ibukota pemerintahan Australia, Canberra, pesepeda sangat dimanjakan oleh kota. Bike lines ada di seluruh kota. Selama ada jalanan untuk transportasi, selama (atau sepanjang) itulah bike lines ada di setiap sisi luar/bahu jalan!. Kecuali jika jalan kemudian akan terhubung dengan highway atau toll, maka berhentilah bike lines, dengan cara dialihkan keluar jalur utama, namun disambung lagi di luar highway, superb!. Tempat parkir sepeda pun tertata rapi dan banyak, sehingga tidak membuat sungkan jika anda bikers dan hendak bepergian untuk memarkir sepeda anda.
Tata kotanya membuat iri. FYI, Canberra dibangun dengan terlebih dahulu dilakukan sayembara. Sang pemenang sayembara (yang juga urban planner) adalah Walter Burley Griffin dan Marion Mahony Griffin, keduanya orang Amerika. Kota ini dibangun dengan konsep kota taman (garden city), sehingga jika anda disana terasa sekali Canberra sebagai Taman yang Luas ketimbang sebagai sebuah kota dengan jumlah penduduk "cuma" 350 ribu jiwa. Jangan heran jika banyak unggas, burung yang berkeliaran bebas di kota ini tanpa terusik. Kesannya klasik, berbaur modernitas dan alam.


Pedestrians juga punya hak istimewa disini. Pengendara kendaraan sangat mendahulukan pejalan kaki. Semua ini ditunjang infrastruktur yang memadai. Jarak antara rumah/kantor dan bahu jalan raya sekitar 4 meter. Sebelumnya terdapat trotoar bagi pedestrians dengan lebar sekitar 1 meter. Nyaman. Aman. 


Di Sydney, ada monorail, yang di Jakarta cuma jadi mimpi alias too good to be true. Kata teman, tentu saja pemerintah Jepang tidak mau serius membangunkan monorail untuk Jakarta, khususnya, karena mereka jelas ingin banget produk kendaraannya tetap laku alias buat mereka Indonesia adalah pangsa pasar besar buat produk-produk kendaraan Jepang. Hampir 8 dari 10 Kendaraan baik mobil maupun motor yang "berkeliaran" di Jakarta adalah made in Japan. Jika semua Jakartans sudah insaf dan mulai menggunakan sepeda atau public transportation, bisa berkurang persentase penjualan Jepang dong!. Untungnya, Indonesia sempat mengiklankan Maskapai Penerbangan Nasionalnya, Garuda Indonesia, di Monorailnya Sydney, setidaknya bangga nama Garuda Indonesia bisa keliling-keliling Sydney, haha. 


Rambu-rambu jalan menjadi "hukum" yang sudah bersuara lebih keras ketimbang menempatkan Petugas Polantas di setiap perempatan, seperti di Jakarta. Maklumlah, karena denda disana sangat mahal. sebagai illustrasi, memakai plat Nopol kendaraan modifikasi saja alias bukan yang asli buatan negara bisa di denda hingga Aus $ 400-500!. Tapi asyiknya, plat nopol kendaraan disana bisa pilih warna. Tidak didominasi warna hitam seperti di Indonesia.Ada sekitar 7 pilihan warna. Plus membuat SIM disana sangat mahal dan masih harus memenuhi kulaifikasi teknis tertentu. Jika anda sudah dapat SIM, kategori pertama anda adalah L (Learner). Perlu beberapa tahun untuk mencapai level P (Professional), fiuhh!. Berat kan? Sudah begitu, ditetapkan pula beberapa jalur jalan yang dilengkapi dengan speed trap berkamera teknologi tinggi. Don't even think to try.
Menyenangkan dapat berkunjung ke Kota Ramah buat Para Pesepeda ini. Banyak juga mahasiswa Universitas di Canberra yang asal Indonesia. Disela waktu kuliahnya, mereka nyambi jadi partimer. Lumayan. Untuk 1 jam bisa dapat bayaran hingga Aus 20 $. Saya sempat ketemu salah satunya di Questacon. Ia asal Bandung, yang juga bersama isterinya tengah ambil Master di Canberra. 


Sementara saya sedang di Sydney, saya dengar kabar buronan korupsi lokal kita, bu Nunun Nurbaeti ternyata sudah ketangkap di Bangkok. Shit! Terus ngapain saya lama-lama di sini, pulang aja deh. Ternyata dia ada di Bangkok, bukan di Australia. Damn!. Salah info nih. Maaf. Punten.
Bye-bye Mike!.