Jumat, Februari 03, 2012

Apalagi yang kau sombongkan, kekayaanmu takkan melebihi Nabi Sulaiman, kepandaianmu takkan bisa melebihi Nabi Khidr

"Apalagi yang kau sombongkan, kekayaanmu takkan melebihi Nabi Sulaiman, kepandaianmu takkan bisa melebihi Nabi Khidr" 

Hidup tidak boleh terperangkap cuma pada tubuh. Tubuh itu "cangkang", wadah. Suatu saat jutaan sel tubuh akan menua sebelum akhirnya ia berhenti meregenerasi dirinya sama sekali. Anda sudah tahu istilah tepatnya saat itu terjadi. 
Hidup ini sendiri adalah "tubuh".  Tidaklah mungkin siapapun untuk dapat menjadi bebas dan lepas merdeka tanpa meninggalkan "tubuh" bernama kehidupan ini, sebab jiwa adalah abadi dan hakikatnya merdeka. Tubuh tidak akan cukup tahan lama dijadikan tempat tinggal jiwa. Untuk sementara saja jiwa tinggal dan menghidupi tubuhmu. 
Sementara jiwa bersemayam di tubuh, ia punya merk : Nama. Nomor, mungkin. Jiwa ini, seperti halnya tubuh, perlu juga nutrisi agar menjadi sehat. Kita sudah tahu semua apa nutrisi jiwa itu. 
Jiwa membuat tombol "sifat" di tubuh menjadi on dan selanjutnya sifat akan nampak dari setiap tindakan tubuh. Jiwa yang ternutrisi dengan baik tercermin dalam sifat dan laku tubuh sehari-hari. 
light of soul
Lantas, adakah missing links ketika menemukan kenyataan banyak jiwa yang tidak ternutrisi dengan baik itu?. Tidak bosan menganalisa praktik sekumpulan jiwa-jiwa dimanapun dan kapanpun dan kemudian men-sharing temuan-temuan, gejala-gejala yang ada,  ditemukan banyak sekali faktor pengalih perilaku yang pada hakikatnya baik menjadi menyimpang. Pekerjaan, semisal. Atas nama pekerjaan, terjadi de-humanisasi. Mengejar ambisi menjadi "pekerja sukses" membuat relasi terhadap sesama garing, mati. Tidak ada lagi tulus itu.  Ular pun menggosok ego sifat dalam tubuh secara perlahan dan mematikan sehingga tercipta tubuh-tubuh yang menghamba kepada eksistensi status sosial, status religiusitas, materi, kuasa, tinggi hati. Hidup bagi tubuh-tubuh yang terjebak ini bagaikan kompetisi di arena balap. Mereka bahkan telah dilatih menjadi senjata mematikan bagi sesama sedari kecil. Simpati dan empati memang harus ada sebagai syarat. Namun persentasenya kecil saja. 
Dalam pekerjaan juga sering ada virus yang kelihatannya tidak berbahaya, namun mematikan secara perlahan.  Seringnya virus ini menghinggapi hampir 90% jiwa tanpa mereka sadari mereka telah terjangkiti akut. virus ini adalah media atau wadah bagi kampanye eksistensi status sosial, materi, kuasa dan berbagai pernyataan negatif yang dihasilkan tubuh akibat penyimpangan fokus tujuan jiwa yang utama. Bisikan ular membuat virus ini mudah menyebar.
Maka, ketika hiruk pikuk ini memekakkan telinga jiwa yang hening dan senyap, terkadang jiwa mendesak hati nurani sebagai karibnya untuk memperingati tubuh. Mengapa repot memperingatkan tubuh, hai jiwa?. Karena ia peduli pada "masa berlaku" tubuh. Ia tidak ingin kelak keluar dari tubuh dan sifat yang dirasukinya dengan hal yang sia-sia tanpa pernah mencapai yang hakiki. Karena jiwalah yang akan menanggung kesia-siaan itu disepanjang keabadiannya nanti. 
Nutrisilah jiwa, tanpa pamer, tanpa hiruk pikuk. Ingatlah, bahkan memamerkan jiwa yang ternutrisi dengan baik pun adalah godaan ular. 

Tabik.
 

0 komentar: