Up In The Air. Ini judul film lama, beredar sekitar tahun 2010 jika saya tidak salah. Saya sudah menontonnya via DVD ketika pertama kali beredar. Beberapa kali juga melalui saluran kabel karena ditayangkan berulang-ulang. Sudah pasti kita juga semua tahu jalan ceritanya. Juga siapa para pemain bintangnya. Hanya saja, suatu ketika melalui saluran kabel saya secara tidak sengaja re-watched film ini hingga selesai. Barulah ketika saya kebetulan menontonnya kembali untuk kesekian kali secara utuh itu saya menemukan sesuatu yang menarik di film ini, yang tentu saja artinya saya melewatkan satu scene menarik dari film ini berulang-ulang kali pula.
Scene yang menarik hati saya itu adalah ketika tokoh Ryan yang dikesankan dingin dan tanpa emosi karena tuntutan pekerjaannya, akhirnya luluh oleh sebuah rasa terhadap Alex. Ada chemistry yang terbangun antara Ryan dan Alex. Tentu saja ini berkat kemampuan akting tiga pemain utama dan chemistry yang terbangun secara profesional di antara mereka bertiga. Vera Farmiga tampil mantap sebagai wanita pebisnis yang nyaris tanpa emosi, persis seperti peran yang dibawakan oleh George Clooney. Kepada VOA, aktris Vera Farmiga yang berperan sebagai Alex mendeskripsikan rasa ketertarikan yang sangat kuat yang tumbuh dalam hubungan antara Ryan dan Alex. “Mereka cocok dalam berbagai tingkatan. Ada daya tarik fisik. Ada daya tarik psikologis,” ujar Vera.
Film ini mengajak penonton memikirkan kembali konsep hubungan romantis antara pria dan wanita, apa yang dianggap lazim dan tidak lazim. Hubungan Ryan dan Alex yang kasual tapi sangat mendalam boleh jadi membuat konsep hubungan romantis yang biasa tak lagi berlaku.
Bahkan ketika rasa itu sangat menguasai hati Ryan sehingga ia meninggalkan forum seminar yang saat itu dirinya justeru tengah berbicara sebagai keynote speaker hanya untuk segera terbang ke Oklahoma bertemu Alex dan hanya untuk mendapati ternyata Alex adalah tipikal istri karier yang telah mapan dengan suami dan anak-anaknya. When he shows up, he finds her with a family and a husband. Mimik muka Ryan menggambarkan 1001 rasa hatinya lebih dari kata-kata. Salah satu suguhan profesional George Clooney!. Adegan selanjutnya, adalah Alex di dalam kabin mobilnya, seorang diri, menelepon Ryan entah dari mana, yang jelas artinya ia menjauhkan diri dari keluarganya sejenak hanya untuk menelepon Ryan. It is what it is!. Brilliant scene.
She calls and asks what he was doing. That was her real life, she said. He is just a PARENTHESES and an ESCAPE from real life.
She doesn’t apologize for this being the case and in fact, tells him to call her if he wants to see her again.
Ryan Bingham: I thought I was a part of your life.
Alex Goran: I thought we signed up for the same thing... I thought our relationship was perfectly clear. You are an escape. You're a break from our normal lives. You're a parenthesis.
Ryan Bingham: I'm a parenthesis?
Alex Goran : What do you want?
Ryan : Ia tidak (bisa) menjawab.
Alex Goran : Ryan, bahkan kamu tidak tahu apa yang kamu inginkan.
Ryan tetap diam sampai akhirnya hubungan telepon terputus.
Simak lagi kalimat tajam Alex ini : I thought our relationship was perfectly clear. You are an escape. You're a break from our normal lives. You're a parenthesis.
"YOU'RE AN ESCAPE. A BREAK FROM OUR NORMAL LIVES. A PARENTHESIS. Terjemahan yang tepat mungkin adalah bahwa Ryan itu "sisipan", sebuah "jeda" saja, sebuah "ruang hampa" atau "ruang steril "yang bisa saja cuma dihuni berdua, tapi sifatnya temporer.
"YOU'RE AN ESCAPE. A BREAK FROM OUR NORMAL LIVES. A PARENTHESIS. Terjemahan yang tepat mungkin adalah bahwa Ryan itu "sisipan", sebuah "jeda" saja, sebuah "ruang hampa" atau "ruang steril "yang bisa saja cuma dihuni berdua, tapi sifatnya temporer.
It is cut you deep inside, isnt it?. Even deeper.
Here’s the issue: Life is more fragmented and segmented than ever before. We live in an era that allows (celebrates? Endorses?) multiple lives and segmentation. Integrity is not a virtue any longer. Be anything or anyone you’d wish to be.Just be it.
Taste a little of this. Taste a little of that. Be a little of this. Be a little of that. It’s all good – as long as you follow your “heart.”
Keren. Seperti tipikal film asing lainnya yang menggali hingga dalam sampai ke area psikologis.
Mari cerdas dengan pilihan tontonan yang ada. Tetap katakan tidak pada sinetron dan film lokal tak bermutu, hingga kapanpun.
Tabik.

2 komentar:
Ah, saya malah belum nonton film ini sama sekali. Kasihan amat Ryan? Nasib Ryan koq sama kayak nasibnya George Clooney dalam kehidupan nyata ya? Konon dia ngga mau menikah karena pernah patah hati?
Beuh, pantas ia nyatu bgt sm karakter Ryan. kindda. Film ini down to earth bgt. It happens to us. every single of us. Dgn kadar yg berbeda ;)
Poskan Komentar