Jumat, Maret 02, 2012

I Love You. You. and You. You Too. You there, there and there.

Semakin engkau ingin tampil sempurna, semakin engkau menderita @PrieGS

Yes, a lot
Di bisnis, packaging itu sangat penting. Wadah. Kemasan yang eye-catching bakal gampang merebut perhatian konsumen. Ujung-ujungnya berharap juga bisa menggaet seleranya pula. Semuanya tentang visualisasi. Bahkan sekarang politik dan para pelakunya pun musti paham dan bergaul akrab dengan jurus marketing dan aneka bentuk kemasan jual-diri jika ingin "dilihat" kontestan. Kualitas adalah hal lain lagi. Sifatnya belum tentu inheren dengan  manisnya kemasan. Kualitas bisa saja cuma nomor sebelas.
Di dunia yang dipenuhi unsur materialisme, semua berlomba untuk tampak "lebih" ketimbang lainnya. Karena packaging, sekali lagi, penting. Atas nama pencitraan diri dan berbagai status yang mengikutinya setiap orang sepakat dalam bawah sadarnya untuk menyembah berhala yang sama : penampilan sempurna. Mindset setiap kita pada akhirnya terinternalisasi semenjak dini untuk ikut bermain di wilayah perangkap itu.
Tidak ada yang salah dengan penampilan yang terbaik. Obsesi tanpa dasar terhadapnyalah yang berbahaya. Mengejar tubuh sexy. Mengejar karier puncak. Mengejar prestasi puncak. Mengejar kesucian. Mengejar kepintaran. Mengejar kemewahan. Mengejar kecanggihan. Mengejar kekinian. Mengejar angin. Menjaring kesia-siaan.
Demi kemasan, apapun dilakukan dan/atau tidak dilakukan. Seorang kawan pernah bercerita karena suaminya yang sekarang sudah  jadi pejabat maka ia tidaklah diperkenankan, atau lebih tepatnya, benaknya mulai memilah-milah kegiatan  yang ingin dilakukannya. Ia mulai menjadi tidak "membumi".  Sikap batinnya mulai berubah demi menjaga imej. Semuanya hanya untuk pencitraan. Menyedihkan sekaligus menyiksa diri sendiri. Menjadikan diri sendiri bukan anda alias Nggak gue banget sama dengan usaha menipu diri sendiri. Memelihara citra diri pun merupakan pengorbanan konyol jika hanya untuk menjaga kepentingan imej tanpa tahu apa substansinya.
Jika bersepeda itu membebaskan rasa kanak-kanak di dalam diri, bersepedalah. Bukan tentang sepeda dan segala atributnya, ini tentang anda. Jika mendengar musik favoritmu jadi pingin berjoged merdeka bagai orang in-trance mengistirahatkan jiwamu, go ahead dance.  Jika dikenal sebagai pribadi dengan kecerdasan luarbiasa justru membuat jiwamu tegang, maka tambahkanlah goblogmu, jika itu membuatmu rileks. Jika berenang arungi laut membuat dahaga jiwamu yang kering menjadi basah maka loncatlah segera dari perahumu bahkan hanya dengan celana dalammu. Jika tidak melakukan apa-apa adalah bagaikan melakukan segalanya bagimu, maka santailah. Jika melakukan perjalanan dengan lambat membuatmu lebih bisa mengagumi sekitarmu karena ia menampakkan keindahan yang selama ini luput karena kesibukanmu, maka menepilah. Kagumilah cahaya kunang-kunang yang timbul dari tubuh mungilnya. Ceraplah kebesaranNya. Jika berkumpul makan dengan orang-orang di Warteg dekat rumah lebih mendekatkan kesadaranmu akan syukurmu, maka naikkan kakimu ke kursi dan mulailah makan dengan lahap seperti yang lainnya. It's not about all the stupid things. It's all about YOU that matter. Be You. Be Free. Tidak jatuh kepada stereotype munafikisasi, namun juga tidak terjebak pada keberlebihan.
Butuh usaha keras untuk "membumi". Butuh usaha lebih keras lagi untuk menjadi rendah hati. Segala hal seolah menantang eksistensi kita untuk selalu terbang tinggi dengan sayap-sayap ego. Yes. No. I'm not being immature. I'm having fun. You should try it.

Pakaian terbaik adalah perilaku #PGS

Tabik

0 komentar: