Jumat, Maret 30, 2012

Pakailah Celana Dalam dengan Bijaksana

"Ketika kesadaran orang terhadap agamanya masih dalam tahap kekanak-kanakan, dia menganggap agama dan Tuhan-nya yang paling benar, paling sempurna. Agama lain jelek, sesat, penyembah berhala, setan atau hantu. Mirip seperti egoisme seorang anak terhadap ibunya yang harus paling sempurna.

Menginjak tahap remaja, anak mulai bergaul, seperti para penganut agama mulai mempelajari agama lain. Dia mulai sadar, ada kebenaran pada ajaran agama-agama lain itu. Egoisme kebenaran agamanya dilumuri dengan kearifan.
Setelah mencapai tahap dewasa, kesadarannya kepada Sang Pencipta semakin kuat. Dia mulai meyakini tidak akan pernah ada sesuatu apa pun di dunia ini tanpa kehendak-Nya.
Agama-agama juga ada karena kehendak Sang Pencipta. Karena itu semua agama mengandung kebenaran. Semua ajaran agama berasal dari wahyu Tuhan yang turun dengan berbagai cara.
Dalam tahap ini, agama bukan lagi sekedar ajaran, melainkan laku yang membimbing hidup manusia. Matang dalam pengetahuan dan pengalaman, orang akan mencapai tahapan spiritual, tahap kelepasan yang hanya mengenal jalan kasih dan penyerahan diri kepada Tuhan Yang Esa.
Kita pun sadar : ternyata Tuhan ada pada diri kita sendiri. Tat Twam Asi (Itu adalah diri-Mu)."
(Raka Santeri, Denpasar, Bali) 

Humanisme "membunuh" agama? Think again!. 
Tabik.


Senin, Maret 26, 2012

After Life

"Bersiaplah kehilangan mulai sekarang, karena saat itu PASTI datang" @PrieGS

Pernah menyaksikan film "After Life"?. Film "Lovely Bones"?. Fyi, kedua film itu menggemaskan sangat. Betapa tidak berdayanya kita bila saat itu telah menjemput. Maka, berapapun umur anda sekarang, pertanyaan sederhananya adalah : dimanakah anda 50 tahun lagi sejak saat sekarang?. Mungkin bisa saja ditambah nominalnya menjadi 100 tahun lagi sejak saat ini. Dimanakah anda saat itu?
Lepas dari statistik terkini harapan hidup rata-rata orang Indonesia, sangat mengagumkan dapat kesempatan melihat orang dengan quota umur hingga diatas 100 tahun. Kecil sekali prosentasenya, tanpa menutup peluang bahwa hal itu [ mungkin ] terjadi. 

Diskusi Sedikit Saja.
Bagi banyak orang, kesadaran bahwa saat itu pasti datang sudah menggugah sejak jauh hari dan telah menyatu dalam alam bawah sadar. Ia adalah "lonceng" pengingat. "Alarm" alamiah bagi tubuh dan jiwa (nafs).  Terlebih bagi masyarakat timur yang "religius", nampaknya. Bahkan bagi kebanyakan aliran ateis pun hal ini mendapat porsi perhatian walaupun kecil. Di banyak agama dan kepercayaan diyakini dan dipelajari sangat tentang hidup setelah kepastian itu menjelang. Banyak teorinya. Banyak deskripsinya. Banyak yang coba memvisualisasikannya. Mungkin banyak juga yang pernah mengalaminya dan kembali lagi sehingga banyak beredar cerita tentang hal itu. Perspektif dari religi sangat subjektif tergantung "merk" yang dikenakannya, walaupun demikian kebanyakan didapati fakta yang hampir sama persis antara "merk" satu dengan yang lainnya. Konsistensi di sini tidak menekankan diskusi "atas nama" religiusitas. Porsi disediakan  membahas dari sudut pandang yang "tidak penting" saja. Bisa saja memakai istilah-istilah baku dari religi dalam pembahasan ini namun sedapat mungkin dihindari.
Jika boleh mengingatkan, dimanakah anda sebelum anda dilahirkan?. Kesadaran sepenuh-penuhnya bahwa anda "hidup" biasanya baru didapat ketika umur beranjak dewasa. Buktinya, sedikit sekali bahkan yang dapat mengingat masa kecilnya dengan rinci dan detail, bukan?. 
Maka, apakah "ketidaksadaran" ketika kita semua belum terlahir [ dan sebagian "ketidaksadaran" ketika kita masih anak kecil ] akan terulang kembali ketika saat itu tiba?. Sekali jiwa tersadar, maka ia tersadar kekal. Dengan kata lain, ketika saat pasti itu tiba, maka karena jiwa telah tersadar kekal, tentu saja terdapat konsekuensi pada saatnya.  bergantung kepada jalan yang dipilih semasa jiwa berdiam di tubuh. Pastinya jiwa akan sadar sepenuhnya ketika masa itu tiba. Sejelas kristal dan dengan sepenuhnya kesadaran menyadari akan mengalami transformasi bentuk saja : unbodied. Kematian fisik. 
Tak perlu digenggam erat. Tak perlu pula ditolak dan ditendang. Saat kepastian itu menjelang maka badankanlah dengan ikhlas dan penuh kesadaran hal ini naturally datang berpasangan. 

Yang Dapat Dilakukan.
Death isn't everything. Ia hanya pintu masuk ke hidup yang sesungguhnya. Bersiaplah jiwa mengembara ke kekekalan sejati. Ketika saat itu telah mendekap, ikhlaskanlah selain tidak ada sesuatu apapun yang dapat dilakukan untuk menyangkalnya. Jangan buang percuma waktu bagi jiwa untuk mencerap sesuatu berguna baginya kelak di kekalnya waktu.
Serupa dengan generasi saat ini yang hampir melupakan leluhurnya, kelak demikian pula anak cicit kita puluhan atau ratusan tahun mendatang mendapati situasi yang sama seperti saat ini kita dengan susah payah berusaha mengenang nenek moyang. Cintanya kita kepada anak, Orang tua, Kekasih, bahkan materi. Ikatan yang sedemikian kuatnya pada saatnya musti berakhir.  
Nikmatilah waktu yang tersedia. Semua ini tidak akan terulang kembali. Ceraplah semaksimal mungkin bahagiamu. Ingatlah suatu saat kelak hanya jiwamu mengembara sendiri di kekekalan waktu.  Tidak lagi bersama keluargamu. Anakmu. Suami/Isterimu. Kekuasaannmu. Kekayaannmu. 
Kali itu untuk selamanya.
Selamanya.


Tabik.   

Rabu, Maret 21, 2012

Blue Soul

"Makin tidak butuh kekaguman, makin mengagumkan" @PrieGS

Bertemu kawan lama itu salah satu modus menggali energi hidup. Apa yang membuat energinya berlimpah adalah karena emotions attached to the memory of old friends. Bertemu [ lagi ] dengan kawan lama juga bukan tentang pembuktian eksistensi diri. Bagi jiwa yang lembut, ego sudah lama mendarat. Bagi batin yang tenang dan sunyi, itu karena "monyet-monyet" dan "kelinci-kelinci" liar sudah dikandangkan hingga tidak lagi berkeliaran tanpa kendali di benak dan mengganggu. Jika sudah begini, bertemu kawan lama itu joy. Eagle fly. Chicken stay. Persis. Karena memang ayam tidak bisa terbang, seperti halnya burung tidak bisa terus dipaksakan tinggal di tanah, maka ia musti terbang. Tak perlu dibandingkan. 
Ketika mengetahui bahwa hidup sebagian kawan lama ain't so much fun, maka itu saatnya bagi immortal soul-mu untuk merefleksi pencapaianmu. Keep cultivating gratitude. Ketika bertemu kawan yang lama yang menerbitkan murkamu, maka you don't need to forgive each other, you are born forgiving each other. Ketika kawan lama berada dalam level yang sama saat ini maka ingatlah bahwa the joy of a mortal body should be parallelized with the joy of an immortal souls. This will make your soul 'a national treasury' of Heaven, for sure. 
Saya sendiri suka bertemu dengan 'Kawan Lama'. Some says i have a relationship with my imaginary friend. Well, i don't mind. Begini biasanya saya suka bertemu beliau di setiap waktu dan tempatnya secara random, mengambil istilah dari Liz : The place where these two souls were meeting everytime is a place that had nothing to do with the body. The two people who needed to talk to each other "up there on a very quiet place" were not people anymore. At the level of this reunion, we were just two cool blue souls who already undertood everything, unbound with bodies, in infinite wisdom. Itu saja. Cerna saja sendiri. Bagi yang telah pernah disana, nampaknya tak lagi ingin kembali. Believe me.

Tabik.

Kamis, Maret 15, 2012

Manajemen Energi

"I'm not lazy. I'm on energy saving mode". 


Kata Bon Jovi, "I'll sleep when i'm dead". Saya akan berhenti bila sudah mati.
Inilah kekuatan energi hidup itu. Energi hidup yang selaras-iring dengan energi alam semesta membuat kehidupan ini terus berputar. Energi itulah bagai langit semesta, ialah ruang maha luas kebiruan, tidak terpengaruh timbul lenyapnya aneka jenis awan, ia tetap maha luas. Hanya awan hitam dan awan putih yang sesekali bergantian bergantungan di langit birunya.
Energi hidup itulah bumi, yang jutaan tahun lalu semenjak terbentuknya tetap menyemburkan air jernihnya, menghasilkan tanah suburnya, yang karenanya bermanfaat menghidupi semua makhluk yang tinggal di permukaannya.
Energi hidup juga yang membangunkan badan. Mimpi pun energi yang menghidupkan. Energi hidup pula yang terejawantahkan dalam berbagai rupanya menuntun umat manusia dalam sejarahnya berevolusi dan terjaga eksistensinya hingga hari ini.
Namun, seperti segala hal diciptakan secara alamiah berpasangan, demikian pula energi : ia berpasangan antara energi positif dan energi negatif. Kehidupan modern kadang membuat kedua energi collided tak terelakkan. Saat ini semua aspek kehidupan memiliki dan terkontaminasi kedua jenis energi ini. Menjadi masalah ketika kekuatan energi negatif lebih mendominasi segala aspek kehidupan. Energi negatif memperbudak manusia dan menurunkan kodratnya menjadi "robot bernyawa".
Dewasa ini, mudah dimaklumi bila hampir semua energi yang ada ditujukan untuk mengejar keuntungan.  Energi untuk meraih segala kekinian atas nama ke-aku-an terkadang membuat semua energi terjungkir balik. Energi positif dapat saja justeru menghasilkan energi negatif. Pun sebaliknya. Meminjam istilah pak Gede Prama, "Jika kita terus menghabiskan semua waktu untuk berlari, tidak hanya lelah dan capek hasilnya, tetapi juga kehilangan sense of direction. Inilah akar dari kehidupan banyak orang yang tandus dan kering".
Disinilah isunya. Kompetisi dalam modernitas membawa banyak kehidupan orang menjadi tanpa makna. Bagaikan ikan yang menerima seluruh hidupnya di dalam air, demikian pula ikan tidak perlu galau melihat burung hidup terbang di angkasa. Karena burung sudah semestinya hidup tidak di air.  Demikian pula ikan tidak akan bertahan di hidup tanpa air. Semuanya sudah pada tempatnya. Menata hati untuk bisa menjadi seluas-luasnya ruang tidak mudah. Diperlukan disiplin untuk menjinakkan "monyet-monyet" dan "kelinci-kelinci" yang bergelantungan liar dan berlarian tak terkendali di benak dan pikiran. Ketika mereka sudah jinak, maka terhemat pula energi hidup.
Selanjutnya, kesadaran di setiap kali terhubung dengan energi semesta  menuntun kita setidaknya ke tataran kontemplatif. Levelnya mengatasi mendengar tapi tidak menyimak. Terkoneksi dengan energi alam semesta yang murni sungguh menyenangkan.Membadankan (baca : menyatukan) dua hal menjadi satu itulah tujuan utamanya. Ketika sebaran energi murni semesta di luar sana tertangkap dan  terolah menjadi satu, maka itulah saatnya energi menghidupkan.
Pesan sederhana adalah, seberapa kerapnya terhubung dengan energi murni semesta jikalau peliharaan "monyet" dan "kelinci" tidak dikendalikan dengan seni disiplin, maka energi pada akhirnya akan terbuang percuma, karena artinya kita masih sering kagum (jawa : gumunan) dan terpesona dengan silih bergantinya awan hitam dan awan putih yang ujungnya membuat lelah karena kita akan terus "berlari" dibudak ke-aku-an diri (tidak sumeleh).
Energi akan dapat dimanajemeni dengan efektif dan efisien jika hati dapat seluas semesta ini. Tataka (danau) menyerap apa yang masuk ke kedalamannya dengan lembut dan tidak bergolak. Apapun mungkin masuk ke kedalamannya pada akhirnya hanya untuk hilang di telan luas ruangnya. Tidak perlu digenggam erat, tak perlu pula ditolak.

"Energiku untuk membenci tidak kuberikan ruang seluas energiku untuk mencintai" @PrieGS 


Tabik.

Jumat, Maret 02, 2012

I Love You. You. and You. You Too. You there, there and there.

Semakin engkau ingin tampil sempurna, semakin engkau menderita @PrieGS

Yes, a lot
Di bisnis, packaging itu sangat penting. Wadah. Kemasan yang eye-catching bakal gampang merebut perhatian konsumen. Ujung-ujungnya berharap juga bisa menggaet seleranya pula. Semuanya tentang visualisasi. Bahkan sekarang politik dan para pelakunya pun musti paham dan bergaul akrab dengan jurus marketing dan aneka bentuk kemasan jual-diri jika ingin "dilihat" kontestan. Kualitas adalah hal lain lagi. Sifatnya belum tentu inheren dengan  manisnya kemasan. Kualitas bisa saja cuma nomor sebelas.
Di dunia yang dipenuhi unsur materialisme, semua berlomba untuk tampak "lebih" ketimbang lainnya. Karena packaging, sekali lagi, penting. Atas nama pencitraan diri dan berbagai status yang mengikutinya setiap orang sepakat dalam bawah sadarnya untuk menyembah berhala yang sama : penampilan sempurna. Mindset setiap kita pada akhirnya terinternalisasi semenjak dini untuk ikut bermain di wilayah perangkap itu.
Tidak ada yang salah dengan penampilan yang terbaik. Obsesi tanpa dasar terhadapnyalah yang berbahaya. Mengejar tubuh sexy. Mengejar karier puncak. Mengejar prestasi puncak. Mengejar kesucian. Mengejar kepintaran. Mengejar kemewahan. Mengejar kecanggihan. Mengejar kekinian. Mengejar angin. Menjaring kesia-siaan.
Demi kemasan, apapun dilakukan dan/atau tidak dilakukan. Seorang kawan pernah bercerita karena suaminya yang sekarang sudah  jadi pejabat maka ia tidaklah diperkenankan, atau lebih tepatnya, benaknya mulai memilah-milah kegiatan  yang ingin dilakukannya. Ia mulai menjadi tidak "membumi".  Sikap batinnya mulai berubah demi menjaga imej. Semuanya hanya untuk pencitraan. Menyedihkan sekaligus menyiksa diri sendiri. Menjadikan diri sendiri bukan anda alias Nggak gue banget sama dengan usaha menipu diri sendiri. Memelihara citra diri pun merupakan pengorbanan konyol jika hanya untuk menjaga kepentingan imej tanpa tahu apa substansinya.
Jika bersepeda itu membebaskan rasa kanak-kanak di dalam diri, bersepedalah. Bukan tentang sepeda dan segala atributnya, ini tentang anda. Jika mendengar musik favoritmu jadi pingin berjoged merdeka bagai orang in-trance mengistirahatkan jiwamu, go ahead dance.  Jika dikenal sebagai pribadi dengan kecerdasan luarbiasa justru membuat jiwamu tegang, maka tambahkanlah goblogmu, jika itu membuatmu rileks. Jika berenang arungi laut membuat dahaga jiwamu yang kering menjadi basah maka loncatlah segera dari perahumu bahkan hanya dengan celana dalammu. Jika tidak melakukan apa-apa adalah bagaikan melakukan segalanya bagimu, maka santailah. Jika melakukan perjalanan dengan lambat membuatmu lebih bisa mengagumi sekitarmu karena ia menampakkan keindahan yang selama ini luput karena kesibukanmu, maka menepilah. Kagumilah cahaya kunang-kunang yang timbul dari tubuh mungilnya. Ceraplah kebesaranNya. Jika berkumpul makan dengan orang-orang di Warteg dekat rumah lebih mendekatkan kesadaranmu akan syukurmu, maka naikkan kakimu ke kursi dan mulailah makan dengan lahap seperti yang lainnya. It's not about all the stupid things. It's all about YOU that matter. Be You. Be Free. Tidak jatuh kepada stereotype munafikisasi, namun juga tidak terjebak pada keberlebihan.
Butuh usaha keras untuk "membumi". Butuh usaha lebih keras lagi untuk menjadi rendah hati. Segala hal seolah menantang eksistensi kita untuk selalu terbang tinggi dengan sayap-sayap ego. Yes. No. I'm not being immature. I'm having fun. You should try it.

Pakaian terbaik adalah perilaku #PGS

Tabik